• Paintings Indonesia Gallery

    Paintings Indonesia Gallery

    Choose your favorite indonesian paintings from thousands of available designs in our Gallery

  • Sendjayani Arts and Dance Gallery

    Sendjayani Arts and Dance Gallery

    A Dance Teacher and Choreographer in Maniratari Dance Company, Studied in SSRI (Indonesia Art School) - Jogyakarta and And 'Escuela Centro de Dansa' in Madrid, Live at Surakarta, Indonesia

  • Indonesian Painters Gallery

    Indonesian Painters Gallery

    The list of painters from Indonesia or the Dutch Indies..

  • Adu Ayam - Lukisan Berdaya Magis

    Adu Ayam - Lukisan Berdaya Magis

    Pelukis: NN (Oil On Canvas)- Dimensi: 90 x 120 Cm - Keterangan: Lukisan ini mempunyai Daya Magis

  • Kwan Kong - Karya Affandi

    Kwan Kong - Karya Affandi

    Pelukis: Affandi (Oil On Canvas)- Tahun: 1965 - Ukuran: 100 x 200 Cm - Style: Ekspresinisme

  • Penari Bali - Karya I Made Suta

    Penari Bali - Karya I Made Suta

    Pelukis: I Made Suta (Oil On Canvas)- Tahun: 1996 - Ukuran: 730 x 890 Cm

Tampilkan postingan dengan label Pelukis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelukis. Tampilkan semua postingan

Andong Solo - Affandi

Affandi adalah salah satu Maestro Pelukis Indonesia yang sudah sangat terkenal, banyak sekali karya lukisannnya yang tersebar didalam maupun diluar negeri. salah satu dari karya lukisan beliau berjudul Andong Solo.

Pelukis Affandi dalam hal ini melukiskan aktifitas para delman dengan Andong mereka yang ada di daerah Solo, para delman ini lalu lalang melintasi jalan-jalan antar kampung mengantarkan penumpang, barang-barang dagangan dan lainya, nuansa damai pedesaan dalam kehidupan bersahaja, menyentuh Affandi untuk menuangkan inspirasinya diatas canvas dengan gaya lukisan ekspresionisme, kombinasi warna mengalir dan berpadu dengan sendirinya dari plototan tube diatas canvas, dengan sapuan tangan sebagai pengganti kuas, nampak lukisan abstrak dengan tekstur ekstrem, dan terciptalah lukisan berjudul "Andong Solo" ini.

Andong merupakan sebuah alat transportasi tradisional berbentuk gerobak yang ditarik oleh kuda, hingga saat ini Andong-Andong tersebut masih digunakan sebagai alat trasportasi dan wisata bagi masyarakat Solo.

 "HORSE DRAWN FROM SOLO"
"ANDONG SOLO"
Painter: Affandi (Oil On Canvas)
Year: 1969
Dimension: 89,5 x 80 Cm
Style: Expressionism
 
 
Lukisan Andong Solo karya pelukis Affandi ini mempunyai sertifikat keaslian lukisan, yang dikeluarkan oleh  Kartika Affandi.

Sertifikat keaslian lukisan "Andong Solo" Karya Affandi


Read more

IB Puja (1970 - )

Nama Lengkapnya Imam Buchori Puja, lahir di Jember 22 Januari 1970, sejak kecil itu tertarik pada lukisan, dan otodidak yang telah kuat bersedia dan lukisan menjadi kebutuhan fisik, obsesinya dalam penuh, jadi crativities untuk diarahkan dan dipelihara. Hal ini dapat terlihat dari beberapa lukisan nya, yang mengungkapkan ekspresi dyanamic gesture dan dengan coluring dramatis. Hal ini juga dibuktikan dengan serangkaian lukisan, yang memiliki itu di unik. Semua model rae diekspresikan melalui spontan pelette pisau oleh akurasi anatomi mempertimbangkan sehingga intrested untuk diamati dan dipahami. 

Exibition
1983 : Collective Exhibition in Jember
1984 : Collective Exhibition in Jenggawah Jember
1992 : Collective Exhibition in Jember
1993 : Collective Exhibition in Jember
1994 : Collective Exhibition in Jember
1996 : Collective Exhibition at Pelukis Cilik Museum in Jember
1997 : Collective Exhibition at GOR Kaliwates in Jember (HAPSAK)
1997 : Collective Exhibition at Bali Cliff Hotel Jimbaran Bali
1997 : Collective Exhibition at Kuta Shopping Centre in Kuta Bali
1997 : Collective Exhibition at Patra Jasa Hotrl in Kuta BAli
1998 : Collective Exhibition at Natour Kuta Beach in Kuta Bali
1998 : Collective Exhibition at Ramada Bintang Bali Hotel in Kuta Bali
1998 : Singgle Exhibition at Pelukis Cilik Museum in Jember
1998 : Collective Exhibition at Museum and Permanent Exhibition Building in Jember
1998 : Collective Exhibition "EMPAT EXPRESI" at Bhayangkara Building in Jember
1998 : Collective Exhibition at Ramada Bintang Bali Hotel in Kuta Bali
1998 : Collective Exhibition at Sheraton Hotel in Surabaya
1999 : Collective Exhibition for celebration of KORPRI XXVII in PEMDA Building in Jember
1999 : Collective Exhibition "GREGET EMPAT KOTA" at Museum and Permanent Exhibition Building in Jember
1999 : Collective Exhibition at Jember Municipality Building
1999 : Collective Exhibition "CITRA ESTETIKA" at Bhayangkara Building in Jember
1999 : Collective Exhibition at PUSPENMAS in Jember
1999 : Collective Exhibition at Wali Sanga Festival in Surabaya
1999 : Sinngel Exhibition at Studio Painter Saba Bali
2000 : Collective Exhibition at Sheraton Hotel in Surabaya
2000 : Collective Exhibition at Soetarjo Building in Jember
2000 : Collective Exhibition "SAPEX 2000" at DKS Gallery Building in Surabaya
2001 : Collective Exhibition at Lorin Hotel in Bali
2001 : Collective Exhibition "CITRA LUKISAN INDONESIA" in Surabaya
2001 : Collective Exhibition "CITRA LUKISAN ISTIMEWA" at Mercury Hotel in Surabaya
2001 : Collective Exhibition in Jakarta
2001 : Collective Exhibition "CITRA LUKISAN INDONESIA " at Mercury Hotel in Surabaya
2002 : Collective Exhibition "BALINESE PAINTING
EXHIBITION " in Bali
2003 : Collective Exhibition "PAINTING EXHIBITION " at UKM UNEJ Jember
2003 : Collective Exhibition at "KIYANTO" Gallery in Batu Malang
2004 : Collective Exhibition with 10 Painters in Jakarta
2004 : Collective Exhibition in Singapore
2004 : Collective Exhibition in Studio Painter in Saba Bali
2005 : WINDOW 2005. Collections of Abstract Work

Karya IB Puja yang ada di Paintings Indonesia Gallery

Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Dimension: 90 x 145 Cm

Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Dimension: 145 x 90 Cm



Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Dimension: 60 x 80 Cm


Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Dimension: 145 x 90 Cm


Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Dimension: 90 x 145 Cm


 "NATURE IN BALI""ALAM BALI"

Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Style: Expressionism
Dimension: 90 x 145 Cm


Lukisan lainnya Karya IB Puja









Read more

I Made Suta (1960 - )

Suta, kakak tertua yang lahir di Taman Kaja - Ubud pada tanggal 6 Agustus 1960, adalah yang pertama yang melukis di antara mereka tiga. Belum pernah seorang guru formal, ia mendapat pengaruhnya dari pelukis dia kagumi: Ida Bagus Made Poleng, I Gusti Made Deblog, dan Rudolf Bonnet. Setelah menyelesaikan studinya di SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) / Sekolah Tinggi Seni Rupa, ia pasti harus menghadapi pahitnya kesulitan ekonomi. Mengorbankan mimpinya untuk mendukung orangtua dan saudaranya yang lain, ia harus terlebih dahulu bekerja di industri hotel selama empat tahun. Namun, kecintaannya pada seni membuatnya membuat comeback. Pada tahun 1986, ia memutuskan untuk melanjutkan studi seni rupa nya di IKIP (Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan) PGRI / Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Hal ini membuat dia satu-satunya dari tiga bersaudara yang memiliki pendidikan seni yang tepat. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai dosen, Suta akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang pelukis penuh waktu. Dia adalah seorang perfeksionis, karakter yang paling serius di antara tiga.

Kaya Lukisan I Made Suta yang ada di Paintings Indonesia - Gallery 


"PENARI BALI"

Painter:  I Made Suta (Oil On Canvas)
Year:  1996
Dimension: 730 x 890 Cm


"DUA PENARI BALI"

Painter: I Made Suta (Oil On Canvas)
Year: 1995
Dimension: 80 x 100 Cm


"3 PENARI BALI"

Painter: I Made Suta (Oil On Canvas)
Year; 1994
Dimension: 780 x 980 Cm

Tarian Bali adalah tradisi tarian yang sangat kuno yang merupakan bagian dari ekspresi keagamaan dan artistik antara orang-orang Bali, asli ke pulau Bali, Indonesia. Tari Bali yang dinamis, sudut dan sangat ekspresif. Para penari Bali mengungkapkan kisah sendratari melalui seluruh gerakan tubuh, jari, tangan dan gerakan tubuh ke kepala dan gerakan mata.

Ada kekayaan besar bentuk tari dan gaya di Bali, dan khususnya penting adalah mereka drama tari ritual yang melibatkan Rangda, penyihir dan binatang Barong besar. Sebagian besar tarian di Bali yang terhubung ke ritual Hindu, seperti Sanghyang Dedari tarian sakral daripada roh hyang dipanggil yang diyakini memiliki para penari dalam keadaan trance selama pertunjukan. Tarian Bali lainnya yang tidak terkait dengan ritual keagamaan dan diciptakan untuk tujuan tertentu, seperti Pendet penyambutan tari dan tari joged yang adalah tarian sosial untuk tujuan hiburan.

Gaya hidup orang Bali dinyatakan dalam tarian mereka. Kita tidak hanya belajar tentang agama Bali dari kreasi tarian mereka tetapi juga kita dapat memahami aliran kegiatan budaya dan kegiatan yang milik kehidupan sehari-hari. Kita dapat menemukan sikap Bali, bagaimana mereka memandang alam, dan bagaimana mereka menganggap flora dan fauna mereka.

Intisari dari budaya Bali adalah tarian dan drama, yang dilakukan selama festival kuil dan dalam upacara-upacara. Tarian dilakukan di hotel-hotel adalah sebagian kecil dari apa yang tari Bali yang ditawarkan.Tari Bali berjalan sejauh Bali ditulis sejarah dengan banyak warisan yang berasal dari Jawa. Ironisnya, sebagai akibat dari Islamisasi Jawa, budaya Jawa telah menghilang namun masih bertahan di Bali dan telah menjadi bagian dari budaya Bali klasik.

Tari Bali tidak bisa dipisahkan dari agama. Bahkan tarian bagi wisatawan yang didahului oleh banyak penari berdoa di kuil keluarga mereka untuk taksu (inspirasi) dari para dewa.

Tari memenuhi sejumlah fungsi tertentu: Ini mungkin sebuah saluran untuk mengunjungi dewa atau setan, para penari bertindak sebagai semacam repositori hidup. Ini mungkin sebagai Selamat datang untuk mengunjungi dewa. Mungkin hiburan untuk mengunjungi dewa.

Khas postur tari Bali memiliki kaki setengah tertekuk, batang tubuh bergeser ke satu sisi dengan siku diangkat dan diturunkan dalam sebuah gerakan yang menampilkan kelenturan tangan dan jari. Batang tubuh digeser dalam simetri dengan lengan. Jika lengan ke kanan, pergeseran adalah ke kiri dan sebaliknya.


Read more

Mozes Misdy (1941 -)

Mozes Misdy lahir pada 14 Desember 1941 di Desa Gambiran di Pulau Jawa. Musa Misdy dikutip pada mengatakan "Lukisan membuat saya senang. Saya menganggap keterampilan yang dibutuhkan untuk melukis sebagai karunia dari Allah. Hal ini tidak hanya cara hidup saya itu adalah tugas saya untuk Tuhan " 

Dengan set tekad dan bakat dia berhasil mengukuhkan keberadaannya. Melalui keyakinan, museum, dan galeri seni lukis di Banyuwangi, diresmikan 21 April 2001, masyarakat dapat membaca jejak sejarah yang panjang.Banyuwangi Komunitas, Jawa Timur, bahkan Indonesia, menyambut baik pembentukan layak Mozes Misdy Museum & Art Gallery pada tahun 2000 m2 di Jalan Gatot Subroto 110, Ketapang, Banyuwangi.

 
Karena, di tengah-tengah manusia keterjebakan Indonesia di padang gurun politik dan ketersesatan banyak keluarga di kerepotan ekonomi, seni dapat digunakan sebagai salah satu ventilasi. Bahkan rumit napas bangsa gelagapan lega dengan melihat karya seni. Oleh karena itu, seni adalah bentuk katarsis serta memancing banjir perasaan, dalam kata-kata pemikir Amerika Doroty Parker. 


Konstruksi bangunan sebagai museum dan galeri kombinasi menjadi sesuatu yang spesifik. Mozes harapan tentang masa depan museum dan galeri menemukan bentuk yang lebih jelas dalam rangka mengembangkan peran. 

Museum ini akan terus Mozes bekerja. Galeri ia berfungsi sebagai arena pameran permanen dengan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari penjualan. 

Sebagai seorang pelukis yang makan asam garam, Mozes pelukis dinyatakan dan lukisannya adalah keberadaan. Sejarah dengan seperangkat paradigma akan menjelajahi kedalaman keberadaan dan dapat dilihat dari alam pikiran diwujudkan melalui lukisan. 

Dari logika itu juga terlihat aura estetika seniman lahir. Ada pelukis yang bisa menghasilkan aura estetika yang luar biasa. Karena dia berada di daerah sejarah, termasuk makro. Tapi bukannya ada pelukis yang mampu membawa aura estetika kasual. Karena dia hanya tinggal di wilayah sejarah mikro. Meski begitu, keduanya memiliki peran penting dalam dinamika seni.

Mozes termasuk sosok pelukis idealis yang dapat melampaui hukum seleksi alam melalui kreativitas dengan sejarah mikro, sampai keberadaannya adalah melalui sejarah makro. 

'' Tapi saya pribadi tidak pernah mempertanyakan siapa saya sebagai seorang seniman dengan segala ubarampe nya. Siapa aku? Telah mencapai mana saya bepergian? Bagi saya itu semua tidak masalah, kecuali jika pekerjaan terus yang membuat saya bahagia. Karena, bagi saya melukis berbagi kebahagiaan. Jadi orang atau kolektor yang membeli lukisan saya sama dengan membeli kebahagiaan jiwa,'' kata Mozes, yang berencana untuk menggelar pameran tunggal minggu 10 sampai 17 Agustus 2002 di Hotel Ciputra Semarang, yang dibawa ke depan untuk 22-29 Juli 2002. 

'' Pelaksanaan pameran dimajukan karena itu dalam agenda saya, pertengahan Agustus harus di Jakarta. Antara lain dengan kaitannya dengan seni rembukan di kota,'' kata Mozes. Dia mengakui nasihat hampir lupa setuju dengan relasi. 

Dia memiliki puluhan kali pameran tunggal di berbagai kota di Indonesia. Antara lain, Medan, Surabaya, Jakarta, Bandung dan Semarang. Beberapa kali ia dipamerkan di luar negeri. Yakni, Kanada, Australia, Malaysia, dan Thailand. 

'' Sekali lagi, saya melukis untuk kebahagiaan, kepuasan murni dari jiwa, bukan laba-rugi,'' katanya.

Karya Mozes Misdy di Paintings Indonesia - Gallery 

 "NAKED WOMAN"
"WANITA TELANJANG"

Painter: Mozes Misdy (Oil On Canvas)
Year: 1990
Dimension: 80 x 70 Cm


Read more

Pelukis Budi Karmanto DR


Anak ke 2 dari 8 bersaudara ini dilahirkan di Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 21 April 1964. Ayahnya Rasman, penjual es keliling dan ibunya, Darsiti, penjual kerupuk. Awalnya bercita-cita jadi tentara, akhirnya gagal karena alasan birokrasi. Bakat melukisnya sudah tampak sejak kecil dan didapat secara otodidak. Semasa sekolah, untuk urusan melukis tidak ada yang menandingi.

Setamat SMA, masuk sanggar GPRS (Gelanggang Remaja Planet Senen), dibimbing oleh pelukis Budie AZ. Di tempat ini, ia mengenal lebih mendalam dunia seni lukis dari para pelukis yang bergiat di sana. Bakat alamnya kian tertempa dan berhasil menggeser nasib dirinya dari penjual koran di Rumah Sakit Islam Jakarta Pusat hingga menjadi pelukis yang cukup dikenal oleh komunitas seni rupa di Jakarta.

Perjumpaannya dengan seekor katak yang terdampar di ruang tamu rumahnya tatkala musim hujan, menginspirasinya untuk menempatkan figur katak sebagai sebuah ‘mitologi’ kontemporer berdasarkan konsepsi yang mampu ia representasikan ke atas kanvas. Sampai-sampai katak disematkan ke dalam namanya sehingga ia kerap di kenal sebagai ‘Budi Kodok’. Dunia seni lukis dengan kodok-kodoknya, membuatnya berhasil memberikan status yang lebih tinggi, dengan dipercayainya ia sebagai pengajar di sekolah formal untuk mengajar kesenian, bahkan dari sekolah swasta nasional berpindah ke sekolah internasional (Gandhi Memorial Intentional School)  di Jakarta.

Bekerja, Berdoa dan Berharap,
Cat Minyak diatas Kanvas, 200 x 145 cm (2013)
Pelukis yang mempunyai konsep berkarya ‘dekat dengan alam’ ini memiliki dua buah studio lukis yang biasa di gunakannya, studio yang pertama berada di Sumur Batu, Jalan Lancar 3, Nomor 14, RT 02/RW 07, Kemayoran, Jakarta Pusat dan studio yang ke dua berada di Taman Harapan Baru Blok U3 Nomor 9 RT 04/RW 25, Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat.

Tercatat sudah enam kali ia berpameran tunggal, pameran bertiga maupun pameran bersama pernah ia ikuti, diantaranya, Pameran Tunggal DALAM DIAM ADA GERAK, DALAM GERAK JANGAN DIAM, di Hilton Evecutive  Club, Jakarta (1994). Pameran Tunggal, Di Hazara Bar Jakarta (1999). Pameran Tunggal DALAM DIAM ADA KATA, DALAM KATAK ADA CERITA di Indo Steak Restaurant, Menara KADIN Kuningan, Jakarta (2000). Pameran Lukisan Bertiga INDONESIA–RUSIA (Budi Karmanto DR, Sigit Wicaksono dan Svetlana Louneva) di Pusat Kebudayaan Rusia, Jakarta (1992). Pameran Lukisan Bertiga (Budi Karmanto DR, Sahat Simatupang, dan Yan Suryana), Di Balai Budaya, Jakarta (1994). Pameran bersama Kelompok Senen di Bulungan, Jakarta Selatan (1986), Pameran lukisan 6 PELUKIS SENEN di Balai budaya, Jakarta (1988). Pameran bersama kelompok B 5 di PPIA LIA, Jakarta (1990). Pameran bersama Kelompok Grogol Senen 200 di Mitra Budaya, Jakarta (1990). Pameran lukisan DWI TUNGGAL (Budi Karmanto DR, masPadhik) pada 4 - 14 November 2011 di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran Tunggal yang ketujuh ‘Catatan Harian Biru’  digelar di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki pada 3 – 15 April 2013.

Menikah dengan Darsih, di karuniai tiga orang putra, Achmad Dzulfikar Novanto, Cesar Apridarkar dan Venno Syakarsih.

 


Read more

Seniman Lukis

Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar.

Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan.

Berikut ini adalah beberapa seniman lukis Indonesia  (meski sebenarnya masih banyak maestro-maestro seni lukis yang dimiliki Indonesia) :

1. Affandi Koesoema (Cirebon, Jawa Barat, 1907)

Affandi Koesoema adalah seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia, mungkin pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya ekspresionisnya dan romantisme yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Pelukis yang produktif, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan. Affandi meninggal pada tanggal 23 Mei 1990.

2. Basoeki Abdullah (lahir di Surakarta, 25 Januari 1915)

Basoeki Abdullah adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia.Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari berbagai penjuru dunia. Basoeki Abdullah meninggal pada tanggal 5 November 1993 pada umur 78 tahun.

3. Sindudarsono Sudjojono (Kisaran, Sumatra Utara, 14 Desember 1913)

Dia pionir yang mengembangkan seni lukis modern khas Indonesia. Pantas saja komunitas seniman, menjuluki pria bernama lengkap Sindudarsono Sudjojono yang akrab dipanggil Pak Djon ini dijuluki Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. Dia salah seorang pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) di Jakarta tahun 1937 yang merupakan awal sejarah seni rupa modern di Indonesia.Pelukis besar kelahiran Kisaran, Sumatra Utara, ini sangat menguasai teknik melukis dengan hasil lukisan yang berbobot. Dia guru bagi beberapa pelukis Indonesia. Selain itu, dia mempunyai pengetahuan luas tentang seni rupa.

4. Barli Sasmitawinata (lahir di Bandung18 Maret 1921)

Barli Sasmitawinata adalah seorang maestro seni lukis realistik Indonesia. Seniman lukis Indonesia ini  lahir di Bandung18 Maret 1921 itu menjadi pelukis berawal atas permintaan kakak iparnya, tahun 1935, Sasmitawinata, agar Barli memulai belajar melukis di studio milik Jos Pluimentz, seorang pelukis asal Belgia yang tinggal di Bandung

5. I Nyoman Gunarsa

 Dia adalah salah seorang seniman yang ternama yang berasal dari Bali. Karya Lukisannya di dasari oleh cerita rakyat Bali, dan legenda Hindu Dharma. Hal tersebut yang membuat gaya melukisnya berbeda dari yang lain. Karya-karyanya berdasarkan eksplorasinya dari kesenian Bali, seperti tarian tradisional, musik tradisional, upacara keagaman, dan keanekaragaman lingkungan yang mempengaruhi banyak seniman yang berasal dari Bali dan Indonesia. Kesuksesan yang diraihnya tidak didapat dengan mudah, ia meraihnya dengan penuh perjuangan. Alumnus dari ASRI Yogyakarta ini memulai karirnya sebagai tenaga pengajar di institut yang membesarkannya.

6. Hendra Gunawan (Bandung, 11 Juni 1918)

Hendra Gunawan dilahirkan pada 11 Juni 1918 di Bandung, Jawa Barat. Ia beruntung karena sempat sempat masuk sekolah dan belajar melukis pada Wahdi, seorang pelukis pemandangan. Dari Wahdi, ia banyak menggali pengetahuan tentang melukis. Kegiatannya bukan hanya melukis semata, tetapi pada waktu senggang ia menceburkan diri pada grup sandiwara Sunda sebagai pelukis dekor.Dari pengalaman itulah, ia mengasah kemampuannya.

7. Srihadi Soedarsono

Pelukis maestro asal Solo – Jawa Tengah, karya-karya Lukisanya merupakan saksi perjalanan sejarah yang beliau goreskan sejak jaman kemerdekaan hingga jaman modern, tema tentang perjuangan, kehidupan, alam dan cinta, semua terkumpul dalam karya-karya lukisanya, baik dalam sketsa maupun dalam karya lukisan dengan berbagai media.

Srihadi Soedarsono merupakan alumni ITB Tahun 1959, beliau juga mengenyam pendidikan di Ohio State University, Amerika Tahun 1960 – 1962. Belaiu pernah mengajar di ITB dan menjadi ketua Institut Seni Jakarta.

8. Joko Pekik

Pernah mengenyam pendidikan ASRI di Jogja ( Akademi Seni Rupa Indonesia ) yang sekarang menjadi ISI ( Institut Seni Indonesia ), memiliki gaya dan karakter Lukisan yang khas, beliau banyak mengkritisi dalam tatanan kehidupan sosial melalui karya Lukisanya.

Perjalanan hidupnya merupakan petualangan getir menuju kesuksesan, karena kasus LEKRA beliau dikucilkan dari masyarakat, karya-karya lukisanya tidak dihargai hingga pada era reformasi beliau mulai menemukan secercah harapan. Karya-karyanya mulai diapresiasi oleh para pengamat seni, dan beberapa karya Lukisanya yang bertema “Celeng” mendapat apresiasi yang luar biasa dari para pengamat maupun para pecinta Lukisan, sehingga karya Lukisan Joko pekik mulai diburu banyak kolektor dengan harga tinggi. Gaya aliran lukisan karya Joko Pekik masuk dalam gaya aliran lukisan realisme sosialis.

9. Jeihan Sukmantoro

Sebagai salah satu Pelukis senior dengan karya-karya lukisan figuratifnya yang khas dan unik, dimana selalu melukiskan figur manusia dengan mata hitam pekat, seolah mengandung makna dan misteri yang dalam.
Kini karya lukisan Jeihan seolah menemukan makna baru dalam tema yang lebih religius, yang mungkin terinspirasi dari perjalanan Hajinya beberapa Tahun yang lalu.

Lukisan karya Jeihan harganya terus merangkak naik seiring dengan naiknya kepopuleran nama dan karya-karya Lukisanya. Lukisan karya Jeihan termasuk dalam gaya aliran lukisan figurative modern.

10. Widayat

Salah satu Pelukis Maestro asal Kutoarjo – Jawa Tengah, sebagian besar karya Lukisanya bertemakan Flora dan Fauna, terinspirasi dari pengalamanya yang membekas pada Tahun 1939 saat beliau pernah bekerja sebagai mantri opnamer ( juru ukur ) pada bidang kehutanan di Palembang selama tiga Tahun, dari pengamatanya tentang alam, hewan dan tumbuhan selama beliau bekerja itulah yang mengilhami sebagain besar karya Lukisanya bertema tentang Alam, flora dan fauna dilukis dalam gaya batik kontemporer.


Read more

Lukisan Affandi - Badai Pasti Berlalu


Judul Karya : Badai Pasti Berlalu
Tahun Pembuatan : 1971
Ukuran : 137cm X 92cm
Media : Oil on Canvas
Makna dari lukisan Affandi yang berjudul "Badai Pasti Berlalu ini" mengisahkan perjuangan manusia yang sedang mengarungi samudera luas untuk mencapai suatu tempat yang akan dituju, sebagaimana manusia dalam hidup ini terus berjuang untuk mencapai tujuan yang diharapkan. dan dalam perjalanan tersebut banyak sekali rintangan, mulai dari ombak badai yang kecil hingga besar, namun setelah ombak dan badai berlalu, secercah matahari memberikan sinarnya, membawa mereka hingga suatu tempat tujuan yang mereka inginkan. Dari kisah mereka bisa diambil falsafah kehidupan, dimana mereka berhasil mengarungi samudera luas, karena memiliki sebuah tujuan pasti dan keinginan yang besar untuk meraih apa yang mereka inginkan, mereka gigih berusaha dan tidak pernah menyerah, mereka tidak perduli sebanyak apapun , sebesar apapun badai dan ombak menghadang, mereka menghadapinya, karena ombak dan badai pasti akan berlalu, berganti dengan indahnya sinar matahari, menuju tempat impian mereka.

Begitu juga makna dalam kehidupan, manusia seperti mengarungi sebuah samudera kehidupan, Manusia disimbolkan dengan Perahu, harapan disimbolkan dengan Matahari, Kehidupan disimbolkan dengan lautan Samudera, rintangan, masalah, ujian dalam kehidupan disimbolkan dengan ombak dan badai. Setiap manusia memiliki arah tujuan kehidupanya masing-masing, bahkan memiliki cita-cita atau impianya masing-masing, hanya manusia yang memiiliki arah tujuan hidup yang pasti, gigih berjuang dan tidak pernah menyerah, yang akan bisa sampai pada suatu tempat kehidupan yang manusia tuju, sesuai dengan yang mereka inginkan (sukses), meski badai dan ombak kehidupan datang silih berganti, tidak pernah menyurutkan niat mereka untuk mundur, lari atau bahkan menyerah. Mereka selalu mempunyai secercah harapan diatas harapan yang disimbolkan dalam lukisan sebagai Matahari, mereka mempunyai keyakinan akan apa yang mereka lakukan, bahwa badai dan gelombang dalam perjalanan kehidupan mereka akan berlalu, mereka akan sampai pada suatu tempat kehidupan seperti yang mereka inginkan, dan mereka yakin bahwa impian mereka akan terwujud.

Mereka disebut sebagai pejuang kehidupan, yang menjadi manusia hebat di masa depan, saat mereka sukses melalui ombak dan badai kehidupan, dan bisa membuktikan bahwa mereka bisa, mereka akan menjadi simbol manusia sukses untuk manusia yang lain. Itulah makna falsafah kehidupan yang dalam, yang dilukiskan oleh sang pelukis maestro legendaris Affandi dalam sebuah karya seni tinggi bergaya abstrak.

Lukisan ini bisa menjadi inspirasi, motivasi dan falsafah bagi siapa saja yang mampu memaknai dan menghayati pesan yang tersirat dan terkandung dalam karya lukisan affandi badai pasti berlalu ini 

Lukisan Karya Affandi yang lainnya yang ada di Gallery Paintings Indonesia adalah:

1. Andong Solo

 <click on picture to enlarge>

"HORSE DRAWN FROM SOLO"
"ANDONG SOLO"

Painter: Affandi (Oil On Canvas)
Year: 1969
Dimension: 89,5 x 80 Cm
Style: Expressionism
Price (Call Us)


Certificate from Kartika Affandi
2.  Kwan Kong

<click on picture to enlarge>

"KWAN KONG"

Painter: Affandi (Oil On Canvas)
Year: 1965
Dimension: 100 x 200 Cm
Style: Expressionism
Price (Call Us)


Read more

Lukisan Van Dyik berhasil diidentifikasi

Lukisan Olivia Boteler Porter semula tidak dikenal dan terlantar di gudang sebuah museum.

Sebuah lukisan peninggalan abad 17, yang sebelumnya tidak dikenal dan ditelantarkan, ternyata karya asli pelukis potret terkenal Van Dyik.

Lukisan cat minyak ini sebelumnya disimpan di gudang Musium Bowes, desa Durham, Inggris, tanpa pernah diketahui siapa pelukisnya.

Tetapi, hasil penelitian terbaru yang dilakukan ahli sejarah seni memastikan bahwa lukisan potret itu merupakan karya Van Dyik.

Penelitian secara seksama bisa dilakukan setelah lukisan tersebut difoto dan diunggah ke situs online BBC Your Painting, dan dilihat langsung oleh sejarawan seni.

Melalui penelitian BBC Two's Culture, yang melibatkan ahli karya-karya Van Dyk yaitu Dr Christopher Brown, lukisan yang semula terlantar itu dipastikan merupakan karya Van Dyik.
Tidak terawat

Dr Brown, direktur Musium Ashmolean di Oxford, mengatakan kepada The Culture Show bahwa hasil identifikasi lukisan Van Dyik ini merupakan "penemuan penting".

"Pasti, ini adalah karya Van Dyck pada fase akhirnya," katanya. "Saya sama-sekali tidak ragu, ini benar-benar karya terbaik Van Dyck."

Anthony Van Dyck, yang merupakan salah-satu pelukis potret tersohor pada abad 17, lahir di Antwerp dan dipercaya menjadi pelukis Raja Charles I di London pada 1632.

Lukisan potret yang berhasil diidentifikasi itu merupakan sosok Olivia Boteler Porter, yang merupakan dayang-dayang istri Raja Charles I, Henrietta Maria.

Semula lukisan ini tidak dianggap penting dan ditemukan di ruangan gudang Musium Bowes dalam kondisi tidak terawat.


Read more

Karya pelukis Affandi (1907 - 1990)


Affandi Koesoema (Cirebon, Jawa Barat, 1907 - 23 Mei 1990) adalah seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Lukisan Indonesia, mungkin pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya yang khas dia. Pada tahun 1950 ia memegang banyak pameran tunggal di India, Inggris, Eropa dan Amerika Serikat. Pelukis yang produktif, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu karya seni.


Biografi

Affandi lahir di Cirebon pada tahun 1907, putra dari R. Koesoema, seorang ukur tertib pabrik gula di Tangerang, Cirebon. Dalam hal pendidikan, itu termasuk pendidikan formal cukup tinggi. Bagi orang-orang generasinya, pendidikan, MULO, dan kemudian lulus dari AMS, termasuk pendidikan diperoleh hanya oleh segelintir anak negeri.
Namun, bakat seni nya sangat kuat mengalahkan disiplin ilmu lain dalam hidup, dan memang telah membuat namanya terkenal sama dengan tokoh atau pemimpin bidang lainnya.
Pada usia 26 tahun, pada tahun 1933, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis, Kartika Affandi.
Sebelum mulai cat, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tiket robek dan bioskop billboard pembuat gambar di salah satu bioskop di Bandung. Karya ini tidak lagi dibudidayakan karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis.
Sekitar tahun 30-an, bergabung dengan grup Five Affandi Bandung, Bandung adalah sekelompok lima pelukis. Mereka adalah Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi dan Affandi percaya menjabat sebagai pemimpin kelompok. Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini berbeda dari Indonesia Picture Experts Association (Persagi) pada tahun 1938, namun kelompok studi bersama dan bekerja sama saling membantu dan pelukis.
Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Sydney Poetera rumah yang saat itu berlangsung dari pendudukan Jepang di Indonesia. Empat seri - yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur - memimpin Seksi Poetera Budaya (Poesat Tenaga Rakyat) untuk mengambil bagian. Dalam bagian ini Poetera Budaya Affandi bertindak sebagai pelaksana dan S. Soedjojono yang bertanggung jawab, yang secara langsung melakukan kontak dengan Bung Karno.
Ketika republik ini diproklamasikan pada tahun 1945, banyak seniman ikut ambil bagian. Gerbong kereta api dan dinding bertuliskan antara lain, "Merdeka atau mati!". Kata-kata itu diambil dari pidato penutupan Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Pada saat itu, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster yang ide Sukarno menggambarkan seseorang yang dirantai tapi rantai rusak. Yang digunakan sebagai model adalah pelukis Dullah. Kata-kata yang ditulis di poster ("Dude, ayo bung") merupakan usulan dari penyair Anwar. Sekelompok pelukis meningkatkannya siang dan malam dan dikirim ke daerah-daerah.
Bakat yang luar biasa untuk melukis sendiri cerita menarik Affandi menorehkan pernah dalam hidupnya. Suatu saat, dia pernah mendapat beasiswa untuk belajar melukis di Santiniketan, India, suatu akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore. Ketika ia tiba di India, ia ditolak dengan alasan bahwa ia telah melihat tidak perlu untuk melukis pendidikan yang lebih. Akhirnya, biaya beasiswa yang telah diterima digunakan untuk mengadakan pameran di seluruh India negara.
Sepulang dari India, Eropa, pada tahun lima puluhan, Affandi dicalonkan oleh Partai Komunis untuk mewakili rakyat tidak merupakan milik pihak dalam pemilihan Majelis Konstituante. Dan terpilih dia, seperti Prof. Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dll, untuk mewakili rakyat tidak partisan. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo teman pelukis juga, biasanya dia hanya diam Affandi, kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi berbicara. Ia masuk komisi kemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi.
Topik yang diangkat adalah tentang perikebinatangan Affandi, bukan dari manusia dan dianggap sebagai lelucon pada waktu itu. Affandi adalah pelukis rendah hati yang masih dekat dengan flora, fauna, dan lingkungan sementara hidup di era teknologi. Ketika ditanya Affandi Perikebinatangan 'pada tahun 1955, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan masih sangat rendah.
Affandi juga termasuk pimpinan Lekra pusat (Institut Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Suharto. Dia bagian seni Institute of Fine Arts) dengan Resobowo Basuki, Henk Ngantung, dan sebagainya.
Pada tahun enam puluhan, gerakan anti-imperialis AS cukup agresif insentif untuk Vietnam. Budaya AS juga anti-disebut 'imperialisme budaya'. Film-film Amerika, diboikot di negara ini. Pada saat itu, Affandi mendapat undangan untuk pameran di gedung USIS di Jakarta. Dan Affandi, pameran di sana.
Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada pertanyaan. Mengapa pimpinan Lekra kok pameran Affandi di perwakilan penyerang. Menanggapi masalah ini, ada nyeletuk: "Pak Affandi kepemimpinan Lekra, tapi ia tidak bisa membedakan antara Lekra dengan lepra!" teman berkata dengan tenang. Karuan saja semua tertawa.
Meskipun melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sederhana dan agak merendah. Pelukis favoritnya yang makan nasi dengan tempe panggang memiliki idola agak tidak biasa. Lainnya ketika memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti Arjuna, Gatutkaca, Werkudara atau Bima, Krishna.
Namun, Affandi memilih Sokrasana yang wajahnya jelek namun sangat kuat. Wayang bahwa ia adalah wakil dari banyak wajah tampannya. Meski begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajah dengan mengeluarkan perangko seri baru karakter seni / artis Indonesia. Menurut Helfy Dirix (cucu tertua Affandi) gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan potret diri Affandi tahun 1974, saat Affandi melukis begitu rajin dan produktif dalam museum serta kediamannya di tepi Kali Gajah Wong Yogyakarta.
Affandi dan lukisan
Selama hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 lukisan. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika dan Australia selalu dunia menarik pecinta seni. Painter yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore pada tahun 1974 dalam melakukan lukisannya, lebih sering menumpahkan cairan langsung melukis dari tabung nya cat dan kemudian mengusapnya dengan jari-jarinya, bermain dan proses warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.
Dalam perjalanan untuk bekerja, pemegang gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore pada tahun 1974, dikenal sebagai pelukis yang menganut aliran atau abstrak ekspresionisme. Sehingga lukisannya seringkali sangat sulit dipahami oleh orang lain, terutama oleh seseorang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasan. Tapi bagi pecinta lukisan itu sehingga menambah daya tariknya.
Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat pada suatu waktu, Affandi merasa bingung sendiri ketika para kritikus meminta konsep dan teori lukisan Barat. Oleh para kritikus Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan gaya baru aliran ekspresionisme. Tapi ketika itu benar-benar Affandi bertanya, apa aliran itu?.
Bahkan kepada orang tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori. Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya, surat-surat adalah organisme kecil dan besar dianggap momok.
Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa ia adalah pelukis kerbau, julukan diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah hewan yang dianggap bodoh dan bodoh. Sikap sang maestro yang tidak suka untuk berteori dan benar-benar lebih memilih untuk bekerja dibuktikan dengan ketulusan profesinya sebagai pelukis yang menjalankan tidak hanya pameran musiman. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting.
Misalnya Affandi menjawab setiap kali ditanya mengapa dia melukis. Dengan enteng, dia menjawab, saya melukis karena saya tidak bisa menulis, aku tidak pandai bicara. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan. Untuk Affandi, lukisan karya. Dia melukis seperti orang lapar. Sampai kesan elitis sekitar sebagai pelukis, dia hanya ingin gambar yang disebut tukang.
Dia lebih jauh berpendapat bahwa dia tidak memiliki kepribadian yang cukup besar untuk disebut seniman, dan ia tidak menempatkan seni pada kepentingan keluarga. Jika anak saya sakit, saya akan berhenti melukis, katanya.
Sampai kematiannya pada Mei 1990, ia tetap profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dimakamkan tidak jauh dari museum yang didirikannya itu.
Museum Affandi
Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam sejarah ketika telah dikunjungi oleh mantan Presiden Soeharto dan mantan Perdana Menteri Malaysia Dr Mahathir Mohamad pada bulan Juni 1988 ketika keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan pada tahun 1973 di atas tanah yang menjadi rumahnya.
Saat ini, ada sekitar 1.000 lukisan lagi di Museum Affandi, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif nilai sejarah yang memulai dari awal karirnya hingga selesai, sehingga tidak dijual.
Sementara II adalah lukisan galeri teman Affandi, baik yang masih hidup atau mati sebagai Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli, Fajar Sidik, dan lain-lain. Ketiga galeri berisi lukisan-lukisan keluarga Affandi.
Di galeri ketiga yang selesai pada tahun 1997, ketika ditampilkan lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat pada tahun 1999. Lukisan, antara lain, "Apa yang harus saya lakukan" (Januari 99), "Apa salahku? Mengapa Ini Harus Terjadi" (Februari 99), "Tidak Adil" (Juni 99), "Kembali Pada Realita Kehidupan, Semuanya Aku memberinya "(Juli 99), dan lain-lain. Ada juga lukisan Maryati, Rukmini Yusuf dan Juki Affandi.













Affandi di mata dunia
Affandi hanya satu pelukis besar Indonesia dengan pelukis besar lainnya seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah dan lain-lain. Tetapi karena banyak keuntungan dan keistimewaan karya-karyanya, para pengagumnya julukan menganugerahinya berbagai judul dan membanggakan, antara lain seperti julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia bahkan julukan Maestro. International Herald Tribune adalah surat kabar yang menyebutnya sebagai pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di Florence, Italia dia diberi gelar Grand Maestro.
Berbagai penghargaan dan hadiah seperti banjir perjalanan hidup dari pria yang hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk dunia seni lukis ini. Antara lain, pada tahun 1977 ia menerima Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX Mundi di Castelo San Marzano, Florence, Italia diangkat anggota Akademi Hak Asasi Manusia.
Dari dalam negeri sendiri, tidak sedikit yang telah menerima banyak penghargaan, di antaranya, penghargaan "Service Top Star" yang diberikan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978. Dan sejak tahun 1986 ia diangkat menjadi Anggota Dewan Pembina ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Bahkan penyair dari 45 Anwar tidak pernah memberinya sebuah puisi khusus untuknya, yang berjudul "Untuk pelukis Affandi".
Untuk lebih mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pecinta seni, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat. Di negara India, dia telah mengadakan pameran di berbagai kota. Demikian pula, di berbagai negara di Eropa, Amerika dan Australia. Di Eropa, ia telah mengadakan pameran antara lain di London, Amsterdam, Brussels, Paris, dan Roma. Begitu juga di negara-negara Amerika seperti Brazil, Venice, San Paulo, dan Amerika Serikat. Kasus seperti itu jugalah yang membuat namanya dikenal di berbagai belahan dunia. Bahkan kurator terkenal asal Magelang, Oei Hong Djien, pernah berburu Affandi ke Rio de Janeiro.
Apresiasi
Piagam Anugerah Seni, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969Doktor Honoris Causa dari University of Singapore, 1974Dag Hammarskjöld, Penghargaan Perdamaian Internasional (Florence, Italia, 1997)Bintang Jasa Utama, 1978Baru pelukis ekspresionis dijuluki Indonesia oleh Koran International Herald TribuneBesar gelar Maestro di Florence, ItaliaPameranMuseum of Modern Art (Rio de Janeiro, Brasil, 1966)East-West Center (Honolulu, 1988)Festival Indonesia (USA, 1990-1992)Gerbang Foundation (Amsterdam, Belanda, 1993)Singapore Art Museum (1994)Center for Strategic and International Studies (Jakarta, 1996)Persahabatan Indonesia Jepang Festival (Morioka, Tokyo, 1997)Masterworks ASEAN (Selangor, dan Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998)Traveling pameran di berbagai kota di India.Pameran di Eropa al: London, Amsterdam, Brussels, Paris, RomaAl pameran di Amerika: Brasil, Venice, São Paulo, Amerika SerikatPameran di Australia

(Courtesy wikipedia Indonesia)


Read more