• Paintings Indonesia Gallery

    Paintings Indonesia Gallery

    Choose your favorite indonesian paintings from thousands of available designs in our Gallery

  • Sendjayani Arts and Dance Gallery

    Sendjayani Arts and Dance Gallery

    A Dance Teacher and Choreographer in Maniratari Dance Company, Studied in SSRI (Indonesia Art School) - Jogyakarta and And 'Escuela Centro de Dansa' in Madrid, Live at Surakarta, Indonesia

  • Indonesian Painters Gallery

    Indonesian Painters Gallery

    The list of painters from Indonesia or the Dutch Indies..

  • Adu Ayam - Lukisan Berdaya Magis

    Adu Ayam - Lukisan Berdaya Magis

    Pelukis: NN (Oil On Canvas)- Dimensi: 90 x 120 Cm - Keterangan: Lukisan ini mempunyai Daya Magis

  • Kwan Kong - Karya Affandi

    Kwan Kong - Karya Affandi

    Pelukis: Affandi (Oil On Canvas)- Tahun: 1965 - Ukuran: 100 x 200 Cm - Style: Ekspresinisme

  • Penari Bali - Karya I Made Suta

    Penari Bali - Karya I Made Suta

    Pelukis: I Made Suta (Oil On Canvas)- Tahun: 1996 - Ukuran: 730 x 890 Cm

Andong Solo - Affandi

Affandi adalah salah satu Maestro Pelukis Indonesia yang sudah sangat terkenal, banyak sekali karya lukisannnya yang tersebar didalam maupun diluar negeri. salah satu dari karya lukisan beliau berjudul Andong Solo.

Pelukis Affandi dalam hal ini melukiskan aktifitas para delman dengan Andong mereka yang ada di daerah Solo, para delman ini lalu lalang melintasi jalan-jalan antar kampung mengantarkan penumpang, barang-barang dagangan dan lainya, nuansa damai pedesaan dalam kehidupan bersahaja, menyentuh Affandi untuk menuangkan inspirasinya diatas canvas dengan gaya lukisan ekspresionisme, kombinasi warna mengalir dan berpadu dengan sendirinya dari plototan tube diatas canvas, dengan sapuan tangan sebagai pengganti kuas, nampak lukisan abstrak dengan tekstur ekstrem, dan terciptalah lukisan berjudul "Andong Solo" ini.

Andong merupakan sebuah alat transportasi tradisional berbentuk gerobak yang ditarik oleh kuda, hingga saat ini Andong-Andong tersebut masih digunakan sebagai alat trasportasi dan wisata bagi masyarakat Solo.

 "HORSE DRAWN FROM SOLO"
"ANDONG SOLO"
Painter: Affandi (Oil On Canvas)
Year: 1969
Dimension: 89,5 x 80 Cm
Style: Expressionism
 
 
Lukisan Andong Solo karya pelukis Affandi ini mempunyai sertifikat keaslian lukisan, yang dikeluarkan oleh  Kartika Affandi.

Sertifikat keaslian lukisan "Andong Solo" Karya Affandi


Read more

IB Puja (1970 - )

Nama Lengkapnya Imam Buchori Puja, lahir di Jember 22 Januari 1970, sejak kecil itu tertarik pada lukisan, dan otodidak yang telah kuat bersedia dan lukisan menjadi kebutuhan fisik, obsesinya dalam penuh, jadi crativities untuk diarahkan dan dipelihara. Hal ini dapat terlihat dari beberapa lukisan nya, yang mengungkapkan ekspresi dyanamic gesture dan dengan coluring dramatis. Hal ini juga dibuktikan dengan serangkaian lukisan, yang memiliki itu di unik. Semua model rae diekspresikan melalui spontan pelette pisau oleh akurasi anatomi mempertimbangkan sehingga intrested untuk diamati dan dipahami. 

Exibition
1983 : Collective Exhibition in Jember
1984 : Collective Exhibition in Jenggawah Jember
1992 : Collective Exhibition in Jember
1993 : Collective Exhibition in Jember
1994 : Collective Exhibition in Jember
1996 : Collective Exhibition at Pelukis Cilik Museum in Jember
1997 : Collective Exhibition at GOR Kaliwates in Jember (HAPSAK)
1997 : Collective Exhibition at Bali Cliff Hotel Jimbaran Bali
1997 : Collective Exhibition at Kuta Shopping Centre in Kuta Bali
1997 : Collective Exhibition at Patra Jasa Hotrl in Kuta BAli
1998 : Collective Exhibition at Natour Kuta Beach in Kuta Bali
1998 : Collective Exhibition at Ramada Bintang Bali Hotel in Kuta Bali
1998 : Singgle Exhibition at Pelukis Cilik Museum in Jember
1998 : Collective Exhibition at Museum and Permanent Exhibition Building in Jember
1998 : Collective Exhibition "EMPAT EXPRESI" at Bhayangkara Building in Jember
1998 : Collective Exhibition at Ramada Bintang Bali Hotel in Kuta Bali
1998 : Collective Exhibition at Sheraton Hotel in Surabaya
1999 : Collective Exhibition for celebration of KORPRI XXVII in PEMDA Building in Jember
1999 : Collective Exhibition "GREGET EMPAT KOTA" at Museum and Permanent Exhibition Building in Jember
1999 : Collective Exhibition at Jember Municipality Building
1999 : Collective Exhibition "CITRA ESTETIKA" at Bhayangkara Building in Jember
1999 : Collective Exhibition at PUSPENMAS in Jember
1999 : Collective Exhibition at Wali Sanga Festival in Surabaya
1999 : Sinngel Exhibition at Studio Painter Saba Bali
2000 : Collective Exhibition at Sheraton Hotel in Surabaya
2000 : Collective Exhibition at Soetarjo Building in Jember
2000 : Collective Exhibition "SAPEX 2000" at DKS Gallery Building in Surabaya
2001 : Collective Exhibition at Lorin Hotel in Bali
2001 : Collective Exhibition "CITRA LUKISAN INDONESIA" in Surabaya
2001 : Collective Exhibition "CITRA LUKISAN ISTIMEWA" at Mercury Hotel in Surabaya
2001 : Collective Exhibition in Jakarta
2001 : Collective Exhibition "CITRA LUKISAN INDONESIA " at Mercury Hotel in Surabaya
2002 : Collective Exhibition "BALINESE PAINTING
EXHIBITION " in Bali
2003 : Collective Exhibition "PAINTING EXHIBITION " at UKM UNEJ Jember
2003 : Collective Exhibition at "KIYANTO" Gallery in Batu Malang
2004 : Collective Exhibition with 10 Painters in Jakarta
2004 : Collective Exhibition in Singapore
2004 : Collective Exhibition in Studio Painter in Saba Bali
2005 : WINDOW 2005. Collections of Abstract Work

Karya IB Puja yang ada di Paintings Indonesia Gallery

Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Dimension: 90 x 145 Cm

Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Dimension: 145 x 90 Cm



Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Dimension: 60 x 80 Cm


Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Dimension: 145 x 90 Cm


Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Dimension: 90 x 145 Cm


 "NATURE IN BALI""ALAM BALI"

Painter: IB Puja (Oil On Canvas)
Style: Expressionism
Dimension: 90 x 145 Cm


Lukisan lainnya Karya IB Puja









Read more

Kolektor, Museum, dan Stigma Lukisan Palsu

OEI Hong Djien mungkin tak mengira, niatnya mengumpulkan potongan sejarah karya para maestro seni lukis Indonesia dan menyuguhkannya ke publik ternyata berujung "badai". Selama dua bulan terakhir, kolektor seni rupa kenamaan asal Magelang ini dibombardir isu tak sedap.

Museum OHD, yang baru diresmikan pada 5 April lalu, disebut-sebut mengoleksi puluhan lukisan palsu karya tiga maestro: Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Soedibio. Atas dasar itu, kolektor lebih dari 2.000 lukisan ini dicap telah merusak dunia seni rupa Indonesia. Lebih gawat lagi, ia dituding terlibat dalam sindikat pemalsuan lukisan-lukisan karya Hendra Gunawan.

Kritik tajam antara lain dilontarkan oleh Amir Sidharta, praktisi balai lelang dan kurator Museum Pelita Harapan. Kritikus seni rupa Agus Dermawan bahkan secara tidak langsung mensejajarkannya dengan peristiwa memalukan 12 tahun silam, saat pameran dan penjualan lukisan-lukisan palsu karya para maestro dunia dan Indonesia digelar di Jakarta (Koran Tempo, 2 Juni 2012).

Sebagai kolektor kawakan bersentuhan dengan karya seni sejak 1960-an langkah Oei memang terbilang berani. Dalam buku Seni dan Mengoleksi Seni, yang diterbitkan Gramedia, ia mengusung konsep kolektor paripurna: kolektor tak sekadar membeli, menyimpan, dan memajang karya yang dimilikinya, tapi juga melestarikan karya seni berkualitas tinggi dan bernilai sejarah, serta mensosialisasinya.

Filosofi inilah yang tampaknya kini justru menyeret Oei ke pusaran badai. Demi memburu karya seni berkualitas tinggi, pernah suatu kali ia "nekat" membeli sebuah lukisan anonim alias tak bertanda tangan. Intuisinya menyatakan, lukisan itu karya maestro Hendra Gunawan, meski beberapa pihak ragu.

Oei memang bukan kolektor yang memilih jalur aman. Risiko itu ia tempuh karena tak mau kehilangan kesempatan mengumpulkan sebanyak mungkin karya para maestro yang terserak hingga ke mancanegara, khususnya yang menggambarkan sejarah perjuangan bangsa. "Lebih baik kehilangan uang (jika ternyata lukisan itu palsu) daripada kehilangan sejarah," katanya.

Lantas, soal niatnya mensosialisasi karya-karya penting ke publik, ia melakukannya dengan membuka museum. Ribuan lukisan koleksinya, yang semula hanya dipamerkan secara terbatas di dua galeri pribadinya, kini mulai dipertontonkan di museum OHD. Oei bahkan menganjurkan para kolektor lain untuk mendirikan museum serupa yang terbuka bagi umum.

Langkahnya itu didasari oleh kenyataan bahwa hingga kini tak cukup intens upaya pemerintah mendirikan museum seni rupa berkualitas. Untuk mengisi kekosongan itu, pihak swasta diharapkan hadir. Banyak contoh kemunculan sejumlah museum terkenal di Amerika Serikat, Eropa, dan juga kini Cina, yang dipelopori oleh para kolektor. Museum of Modern Art (MoMA), yang dirintis oleh keluarga Rockefeller, dan National Art Gallery Washington oleh Andrew Mellon, termasuk di antaranya.

Persoalannya, kini muncul tudingan bahwa sejumlah lukisan di Museum OHD diragukan keasliannya dan bisa menyesatkan publik. Untuk menjernihkan persoalan ini, sikap Oei yang disampaikannya pada forum diskusi di Galeri Nasional patut diapresiasi. Ia membuka pintu dialog dan penelitian ulang atas koleksinya. Oei pun tak keberatan, jika terbukti palsu, lukisan miliknya itu "dilengserkan" dari Museum OHD.

Menanggapi tawaran Oei, yang sesungguhnya kini dibutuhkan adalah penelitian mendalam, bukan sekadar bergunjing. Lazimnya prosedur investigasi, sebuah dugaan awal perlu ditindaklanjuti dengan upaya pengumpulan bukti-bukti, pengamatan langsung, serta verifikasi dan klarifikasi ke berbagai pihak, baik kepada Oei maupun keluarga atau lingkungan dekat si pelukis. Jika perlu, dilakukan penelitian atas cat pada lukisan untuk membuktikan kesahihan umur lukisan tersebut.

Sayangnya, sederet prosedur inilah yang hingga kini alpa dilakukan. Padahal sejumlah fakta menggambarkan, sinyalemen lukisan palsu itu masih perlu diuji lebih jauh dan belum didukung oleh argumen yang sangat kuat. Ambil contoh, penilaian Aminudin T.H. Siregar alias Ucok, peneliti sejarah seni rupa ITB, atas lukisan Soedibio berjudul Perdjalanan ke Langit (1946). Lukisan ini diragukan keasliannya lantaran kanvasnya berukuran jumbo 200 x 300 cm dan tanpa sambungan.

Faktanya, lebar kanvas lukisan itu hanya 150 cm. Tak ada yang janggal dengan ini, sebab lukisan Hendra Gunawan berjudul Aloen-aloen Kidoel", yang dibuat pada tahun yang sama, juga menggunakan kanvas sambungan selebar 150 cm plus 75 cm. Selain itu, argumen bahwa gaya lukisan Soedibio janggal, lantaran bertema perjuangan yang mencekam dan bernuansa kelam, juga tak solid. Sebab, faktanya, ada pula empat lukisan drawing Soedibio milik seorang pelukis di Yogya yang bertema serupa.

Contoh lain adalah seputar keraguan atas lukisan karya Sudjojono berjudul Pangeran Diponegoro. Ucok dan Tedjabayu, putra Sudjojono, sangsi atas keaslian lukisan ini, karena bayonet pada gambar itu dinilai tak sesuai dengan masa perang Diponegoro (1825-1830). Kesalahan seperti ini, menurut keduanya, tak mungkin terjadi, karena Sudjojono sangat teliti dan mendasarkan lukisan-lukisannya pada riset.

Argumen ini bisa saja benar. Tapi, kejanggalan serupa terdapat pada lukisan Sudjojono lainnya yang juga berjudul Pangeran Diponegoro, seperti dimuat pada buku Visible Soul yang ditulis oleh Amir Sidharta. Berdasarkan riset Sarasvati yang didirikan oleh analis finansial Lin Che Wei, di masa itu belum ada bayonet seperti tergambar pada lukisan tersebut.

Bayonet senapan jenis Dutch M1825 Marechaussee, yang berbentuk sangat panjang dan bisa dilipat di bawah senapan, baru muncul pada 1844. Jika begitu, apakah kedua lukisan itu lantas bisa dianggap palsu? Menurut Suatmaji, yang juga peneliti sejarah seni rupa, Sudjojono sebagai seorang pelukis bebas melakukan interpretasi. Lagi pula, lukisan itu sudah lahir pada 1960, sementara Sudjojono baru melakukan penelitian ke Belanda pada 1970-an.

Ada pula cerita menarik seputar lukisan Sudjojono yang berjudul Pertemuan di Tepi Danau di Pegunungan. Menurut cerita Oei, lukisan miliknya ini sempat diragukan keasliannya oleh Amir, saat penyusunan buku Visible Soul. Namun Rose Pandanwangi, istri kedua Sudjojono, tak sepakat, sehingga foto lukisan tersebut akhirnya tetap dimuat di buku itu.

Kwee Ing Tjiong, yang menjadi murid Sudjojono sejak 1969, yakin betul bahwa lukisan yang dibeli Oei dari keluarga Affandi itu asli. "Saya melihat sendiri lukisan itu di kamar Affandi," katanya saat saya menanyakannya langsung. Lukisan ini juga muncul di buku Ketika Kata Ketika Warna, yang turut disusun oleh Agus Dermawan.

Menjawab keraguan terhadap lukisan Sudjojono berjudul Persiapan Serangan Malam, alibi Oei juga cukup masuk akal. Sederet foto proses restorasi lukisan itu di Singapura, yang dibelinya dalam kondisi rusak parah, memperkuat argumennya bahwa itu lukisan tua. Namun sanggahan Ucok, bahwa kini banyak praktek pemalsu yang membuat lukisan agar terkesan berumur tua, perlu pula diwaspadai.

Itu sebabnya, pemeriksaan lebih jauh amat diperlukan. Dan yang terpenting, sudah saatnya negeri ini mengembangkan tradisi dialog dan penelitian yang lebih baik atas karya seni. Semua kegaduhan ini, seperti diungkapkan oleh budayawan Goenawan Mohamad dalam forum diskusi, timbul akibat ketiadaan lembaga dan budaya kritik yang sehat. Perbaikan diperlukan agar perdebatan dalam dunia seni rupa Indonesia tak lagi tereduksi hanya pada urusan stigmatisasi lukisan palsu. ●


Read more

I Made Suta (1960 - )

Suta, kakak tertua yang lahir di Taman Kaja - Ubud pada tanggal 6 Agustus 1960, adalah yang pertama yang melukis di antara mereka tiga. Belum pernah seorang guru formal, ia mendapat pengaruhnya dari pelukis dia kagumi: Ida Bagus Made Poleng, I Gusti Made Deblog, dan Rudolf Bonnet. Setelah menyelesaikan studinya di SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) / Sekolah Tinggi Seni Rupa, ia pasti harus menghadapi pahitnya kesulitan ekonomi. Mengorbankan mimpinya untuk mendukung orangtua dan saudaranya yang lain, ia harus terlebih dahulu bekerja di industri hotel selama empat tahun. Namun, kecintaannya pada seni membuatnya membuat comeback. Pada tahun 1986, ia memutuskan untuk melanjutkan studi seni rupa nya di IKIP (Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan) PGRI / Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Hal ini membuat dia satu-satunya dari tiga bersaudara yang memiliki pendidikan seni yang tepat. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai dosen, Suta akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang pelukis penuh waktu. Dia adalah seorang perfeksionis, karakter yang paling serius di antara tiga.

Kaya Lukisan I Made Suta yang ada di Paintings Indonesia - Gallery 


"PENARI BALI"

Painter:  I Made Suta (Oil On Canvas)
Year:  1996
Dimension: 730 x 890 Cm


"DUA PENARI BALI"

Painter: I Made Suta (Oil On Canvas)
Year: 1995
Dimension: 80 x 100 Cm


"3 PENARI BALI"

Painter: I Made Suta (Oil On Canvas)
Year; 1994
Dimension: 780 x 980 Cm

Tarian Bali adalah tradisi tarian yang sangat kuno yang merupakan bagian dari ekspresi keagamaan dan artistik antara orang-orang Bali, asli ke pulau Bali, Indonesia. Tari Bali yang dinamis, sudut dan sangat ekspresif. Para penari Bali mengungkapkan kisah sendratari melalui seluruh gerakan tubuh, jari, tangan dan gerakan tubuh ke kepala dan gerakan mata.

Ada kekayaan besar bentuk tari dan gaya di Bali, dan khususnya penting adalah mereka drama tari ritual yang melibatkan Rangda, penyihir dan binatang Barong besar. Sebagian besar tarian di Bali yang terhubung ke ritual Hindu, seperti Sanghyang Dedari tarian sakral daripada roh hyang dipanggil yang diyakini memiliki para penari dalam keadaan trance selama pertunjukan. Tarian Bali lainnya yang tidak terkait dengan ritual keagamaan dan diciptakan untuk tujuan tertentu, seperti Pendet penyambutan tari dan tari joged yang adalah tarian sosial untuk tujuan hiburan.

Gaya hidup orang Bali dinyatakan dalam tarian mereka. Kita tidak hanya belajar tentang agama Bali dari kreasi tarian mereka tetapi juga kita dapat memahami aliran kegiatan budaya dan kegiatan yang milik kehidupan sehari-hari. Kita dapat menemukan sikap Bali, bagaimana mereka memandang alam, dan bagaimana mereka menganggap flora dan fauna mereka.

Intisari dari budaya Bali adalah tarian dan drama, yang dilakukan selama festival kuil dan dalam upacara-upacara. Tarian dilakukan di hotel-hotel adalah sebagian kecil dari apa yang tari Bali yang ditawarkan.Tari Bali berjalan sejauh Bali ditulis sejarah dengan banyak warisan yang berasal dari Jawa. Ironisnya, sebagai akibat dari Islamisasi Jawa, budaya Jawa telah menghilang namun masih bertahan di Bali dan telah menjadi bagian dari budaya Bali klasik.

Tari Bali tidak bisa dipisahkan dari agama. Bahkan tarian bagi wisatawan yang didahului oleh banyak penari berdoa di kuil keluarga mereka untuk taksu (inspirasi) dari para dewa.

Tari memenuhi sejumlah fungsi tertentu: Ini mungkin sebuah saluran untuk mengunjungi dewa atau setan, para penari bertindak sebagai semacam repositori hidup. Ini mungkin sebagai Selamat datang untuk mengunjungi dewa. Mungkin hiburan untuk mengunjungi dewa.

Khas postur tari Bali memiliki kaki setengah tertekuk, batang tubuh bergeser ke satu sisi dengan siku diangkat dan diturunkan dalam sebuah gerakan yang menampilkan kelenturan tangan dan jari. Batang tubuh digeser dalam simetri dengan lengan. Jika lengan ke kanan, pergeseran adalah ke kiri dan sebaliknya.


Read more