• Paintings Indonesia Gallery

    Paintings Indonesia Gallery

    Choose your favorite indonesian paintings from thousands of available designs in our Gallery

  • Sendjayani Arts and Dance Gallery

    Sendjayani Arts and Dance Gallery

    A Dance Teacher and Choreographer in Maniratari Dance Company, Studied in SSRI (Indonesia Art School) - Jogyakarta and And 'Escuela Centro de Dansa' in Madrid, Live at Surakarta, Indonesia

  • Indonesian Painters Gallery

    Indonesian Painters Gallery

    The list of painters from Indonesia or the Dutch Indies..

  • Adu Ayam - Lukisan Berdaya Magis

    Adu Ayam - Lukisan Berdaya Magis

    Pelukis: NN (Oil On Canvas)- Dimensi: 90 x 120 Cm - Keterangan: Lukisan ini mempunyai Daya Magis

  • Kwan Kong - Karya Affandi

    Kwan Kong - Karya Affandi

    Pelukis: Affandi (Oil On Canvas)- Tahun: 1965 - Ukuran: 100 x 200 Cm - Style: Ekspresinisme

  • Penari Bali - Karya I Made Suta

    Penari Bali - Karya I Made Suta

    Pelukis: I Made Suta (Oil On Canvas)- Tahun: 1996 - Ukuran: 730 x 890 Cm

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kolektor, Museum, dan Stigma Lukisan Palsu

OEI Hong Djien mungkin tak mengira, niatnya mengumpulkan potongan sejarah karya para maestro seni lukis Indonesia dan menyuguhkannya ke publik ternyata berujung "badai". Selama dua bulan terakhir, kolektor seni rupa kenamaan asal Magelang ini dibombardir isu tak sedap.

Museum OHD, yang baru diresmikan pada 5 April lalu, disebut-sebut mengoleksi puluhan lukisan palsu karya tiga maestro: Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Soedibio. Atas dasar itu, kolektor lebih dari 2.000 lukisan ini dicap telah merusak dunia seni rupa Indonesia. Lebih gawat lagi, ia dituding terlibat dalam sindikat pemalsuan lukisan-lukisan karya Hendra Gunawan.

Kritik tajam antara lain dilontarkan oleh Amir Sidharta, praktisi balai lelang dan kurator Museum Pelita Harapan. Kritikus seni rupa Agus Dermawan bahkan secara tidak langsung mensejajarkannya dengan peristiwa memalukan 12 tahun silam, saat pameran dan penjualan lukisan-lukisan palsu karya para maestro dunia dan Indonesia digelar di Jakarta (Koran Tempo, 2 Juni 2012).

Sebagai kolektor kawakan bersentuhan dengan karya seni sejak 1960-an langkah Oei memang terbilang berani. Dalam buku Seni dan Mengoleksi Seni, yang diterbitkan Gramedia, ia mengusung konsep kolektor paripurna: kolektor tak sekadar membeli, menyimpan, dan memajang karya yang dimilikinya, tapi juga melestarikan karya seni berkualitas tinggi dan bernilai sejarah, serta mensosialisasinya.

Filosofi inilah yang tampaknya kini justru menyeret Oei ke pusaran badai. Demi memburu karya seni berkualitas tinggi, pernah suatu kali ia "nekat" membeli sebuah lukisan anonim alias tak bertanda tangan. Intuisinya menyatakan, lukisan itu karya maestro Hendra Gunawan, meski beberapa pihak ragu.

Oei memang bukan kolektor yang memilih jalur aman. Risiko itu ia tempuh karena tak mau kehilangan kesempatan mengumpulkan sebanyak mungkin karya para maestro yang terserak hingga ke mancanegara, khususnya yang menggambarkan sejarah perjuangan bangsa. "Lebih baik kehilangan uang (jika ternyata lukisan itu palsu) daripada kehilangan sejarah," katanya.

Lantas, soal niatnya mensosialisasi karya-karya penting ke publik, ia melakukannya dengan membuka museum. Ribuan lukisan koleksinya, yang semula hanya dipamerkan secara terbatas di dua galeri pribadinya, kini mulai dipertontonkan di museum OHD. Oei bahkan menganjurkan para kolektor lain untuk mendirikan museum serupa yang terbuka bagi umum.

Langkahnya itu didasari oleh kenyataan bahwa hingga kini tak cukup intens upaya pemerintah mendirikan museum seni rupa berkualitas. Untuk mengisi kekosongan itu, pihak swasta diharapkan hadir. Banyak contoh kemunculan sejumlah museum terkenal di Amerika Serikat, Eropa, dan juga kini Cina, yang dipelopori oleh para kolektor. Museum of Modern Art (MoMA), yang dirintis oleh keluarga Rockefeller, dan National Art Gallery Washington oleh Andrew Mellon, termasuk di antaranya.

Persoalannya, kini muncul tudingan bahwa sejumlah lukisan di Museum OHD diragukan keasliannya dan bisa menyesatkan publik. Untuk menjernihkan persoalan ini, sikap Oei yang disampaikannya pada forum diskusi di Galeri Nasional patut diapresiasi. Ia membuka pintu dialog dan penelitian ulang atas koleksinya. Oei pun tak keberatan, jika terbukti palsu, lukisan miliknya itu "dilengserkan" dari Museum OHD.

Menanggapi tawaran Oei, yang sesungguhnya kini dibutuhkan adalah penelitian mendalam, bukan sekadar bergunjing. Lazimnya prosedur investigasi, sebuah dugaan awal perlu ditindaklanjuti dengan upaya pengumpulan bukti-bukti, pengamatan langsung, serta verifikasi dan klarifikasi ke berbagai pihak, baik kepada Oei maupun keluarga atau lingkungan dekat si pelukis. Jika perlu, dilakukan penelitian atas cat pada lukisan untuk membuktikan kesahihan umur lukisan tersebut.

Sayangnya, sederet prosedur inilah yang hingga kini alpa dilakukan. Padahal sejumlah fakta menggambarkan, sinyalemen lukisan palsu itu masih perlu diuji lebih jauh dan belum didukung oleh argumen yang sangat kuat. Ambil contoh, penilaian Aminudin T.H. Siregar alias Ucok, peneliti sejarah seni rupa ITB, atas lukisan Soedibio berjudul Perdjalanan ke Langit (1946). Lukisan ini diragukan keasliannya lantaran kanvasnya berukuran jumbo 200 x 300 cm dan tanpa sambungan.

Faktanya, lebar kanvas lukisan itu hanya 150 cm. Tak ada yang janggal dengan ini, sebab lukisan Hendra Gunawan berjudul Aloen-aloen Kidoel", yang dibuat pada tahun yang sama, juga menggunakan kanvas sambungan selebar 150 cm plus 75 cm. Selain itu, argumen bahwa gaya lukisan Soedibio janggal, lantaran bertema perjuangan yang mencekam dan bernuansa kelam, juga tak solid. Sebab, faktanya, ada pula empat lukisan drawing Soedibio milik seorang pelukis di Yogya yang bertema serupa.

Contoh lain adalah seputar keraguan atas lukisan karya Sudjojono berjudul Pangeran Diponegoro. Ucok dan Tedjabayu, putra Sudjojono, sangsi atas keaslian lukisan ini, karena bayonet pada gambar itu dinilai tak sesuai dengan masa perang Diponegoro (1825-1830). Kesalahan seperti ini, menurut keduanya, tak mungkin terjadi, karena Sudjojono sangat teliti dan mendasarkan lukisan-lukisannya pada riset.

Argumen ini bisa saja benar. Tapi, kejanggalan serupa terdapat pada lukisan Sudjojono lainnya yang juga berjudul Pangeran Diponegoro, seperti dimuat pada buku Visible Soul yang ditulis oleh Amir Sidharta. Berdasarkan riset Sarasvati yang didirikan oleh analis finansial Lin Che Wei, di masa itu belum ada bayonet seperti tergambar pada lukisan tersebut.

Bayonet senapan jenis Dutch M1825 Marechaussee, yang berbentuk sangat panjang dan bisa dilipat di bawah senapan, baru muncul pada 1844. Jika begitu, apakah kedua lukisan itu lantas bisa dianggap palsu? Menurut Suatmaji, yang juga peneliti sejarah seni rupa, Sudjojono sebagai seorang pelukis bebas melakukan interpretasi. Lagi pula, lukisan itu sudah lahir pada 1960, sementara Sudjojono baru melakukan penelitian ke Belanda pada 1970-an.

Ada pula cerita menarik seputar lukisan Sudjojono yang berjudul Pertemuan di Tepi Danau di Pegunungan. Menurut cerita Oei, lukisan miliknya ini sempat diragukan keasliannya oleh Amir, saat penyusunan buku Visible Soul. Namun Rose Pandanwangi, istri kedua Sudjojono, tak sepakat, sehingga foto lukisan tersebut akhirnya tetap dimuat di buku itu.

Kwee Ing Tjiong, yang menjadi murid Sudjojono sejak 1969, yakin betul bahwa lukisan yang dibeli Oei dari keluarga Affandi itu asli. "Saya melihat sendiri lukisan itu di kamar Affandi," katanya saat saya menanyakannya langsung. Lukisan ini juga muncul di buku Ketika Kata Ketika Warna, yang turut disusun oleh Agus Dermawan.

Menjawab keraguan terhadap lukisan Sudjojono berjudul Persiapan Serangan Malam, alibi Oei juga cukup masuk akal. Sederet foto proses restorasi lukisan itu di Singapura, yang dibelinya dalam kondisi rusak parah, memperkuat argumennya bahwa itu lukisan tua. Namun sanggahan Ucok, bahwa kini banyak praktek pemalsu yang membuat lukisan agar terkesan berumur tua, perlu pula diwaspadai.

Itu sebabnya, pemeriksaan lebih jauh amat diperlukan. Dan yang terpenting, sudah saatnya negeri ini mengembangkan tradisi dialog dan penelitian yang lebih baik atas karya seni. Semua kegaduhan ini, seperti diungkapkan oleh budayawan Goenawan Mohamad dalam forum diskusi, timbul akibat ketiadaan lembaga dan budaya kritik yang sehat. Perbaikan diperlukan agar perdebatan dalam dunia seni rupa Indonesia tak lagi tereduksi hanya pada urusan stigmatisasi lukisan palsu. ●


Read more

Aliran Seni Rupa di Indonesia


Beragam aliran seni rupa yang berkembang di Eropa pun cukup populer di Indonesia. Aliran dalam seni rupa yang berkembang di Indonesia tersebut, di antaranya sebagai berikut.

1. Aliran Naturalisme

Sebagaimana namanya yaitu Natural, melukiskan sesuatu yang nyata dan alami seperti tampak pada aslinya. Ciri lukisan Aliran ini mengambil objek keindahan alam. Sekumpulan pelukis aliran naturalis di Indonesia diawali adanya kelompok Moi Indie, antara lain Rudolf Bonnet, Le Mayeur, Locatelli, Abdullah Soerjo Soebroto, Basoeki Abdullah, Wakidi, dan R.M. Pirngadi.

Contoh-contoh karyanya banyak sekali kita temukan baik di dalam masyarakat umum ataupun di internet.

2. Aliran Realisme

Aliran senirupa yang kedua adalah Aliran Realisme. Tidak jauh berbeda dengan Aliran Naturalisme yaitu sama-sama menggambarkan  objeknya sesuai keadaan apa adanya, Namun perbedaan dengan aliran Realis adalah Seniman Realisme mengambil objek dari kehidupan sehari-hari yang benar-benar real dan tanpa ilusi. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa untuk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun.Perupa realis selalu berusaha menampilkan kehidupan sehari-hari dari karakter, suasana, dilema, dan objek tertentu.

Tokoh dari Aliran Realis ialah Trubus, S. Sudjojono, Agus Jaya Suminta, Dullah, Tarmizi, dan Suromo.

3. Aliran Romantisme

Aliran Romantisme yaitu ciri lukisan yang menggambarkan adegan dramatis serta kaya perpaduan warna kontras. Aliran Romantisme lebih banyak menampilkan tema-tema kehidupan dunia misteri, cerita roman, tema yang eksotik. Aliran Romantisme merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. melukiskan objek yang menyangkut perilaku kehidupan.Tentang perjuangan, tragedi, cinta kasih. 

Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan. Tokoh aliran ini di Indonesia dipelopori oleh Raden Saleh.

4. Aliran Impressionisme

Aliran Impresionisme yaitu ciri lukisan bertemakan alam yang dibuat secara langsung dan cepat, berdasarkan kesan pencahayaan, garis, dan warna. Aliran Impressionisme merupakan aliran seni rupa yang lahir pada tahun 1874. Aliran ini mengutamakan kesan selintas dari suatu obyek yang dilukiskan. Kesan itu didapat dari bantuan sinar matahari yang merefleksi ke mata mereka. Mereka melukiskan dengan cepat karena perputaran matahari dari timur ke barat. Karena itulah dalam lukisan impressionisme obyek yang dihasilkan agak kabur dan tidak mendetail. Tokoh aliran ini ialah Zaini Kusnadi, Solichin serta Afandi pelukis maestro indonesia sebelum ber aliran ekspressionisme.

5. Aliran Ekspressionisme

Aliran Senirupa selanjutnya yaitu Aliran Ekspresionisme, yaitu ciri lukisan yang penggambaran bentuknya cenderung menyimpang dari wujud aslinya. Ekspresionisme adalah aliran yang mengutamakan curahan batin secara bebas. Bebas dalam menggali obyek yang timbul dari dunia batin ! Imajinasi dan perasaan. Obyek-obyek yang dilukiskan antara lain kengerian, kekerasan, kemiskinan, kesedihan dan keinginan lain dibalik tingkah laku manusia. Lukisan ini merupakan hasil ungkapan perasaan pelukisnya yang dibuat secara spontan. Tokohnya paling terkenal di Indonesia ialah Affandi, serta pelukis ekspresionisme yang lain seperti Rusli, dan Srihadi Sudarsono juga termasuk Zaini dan Popo Iskandar.

6. Aliran Abstrak

Aliran Senirupa Abstrak, yaitu ciri lukisan hasil ungkapan batin pelukisnya dengan bentuk penggambaran objek yang tidak dikenali lagi (hanya pelukisnya yang tahu). Abstrak sendiri adalah salah satu jenis kesenian kontemporer yang tidak menggambarkan obyek dalam dunia asli, para senimannya hanya menggunakan warna dan bentuk dalam cara non-representasional. Unsur yang dianggap mampu memberikan sensasi keberadaan objek diperkuat untuk menggantikan unsur bentuk yang dikurangi porsinya. Hasilnya berupa komposisi garis,bidang,warna dan unsur-unsur lainya.

Tokoh aliran Abstrak di Indonesia adalah: Nashar, Fajar Sidik, Ahmad Sadali, Amri Yahya, Handrio, Hans Hartung, Zaini, dan A. D. Pirous.

7. Aliran Klasikisme

Aliran Klasikisme yaitu ciri lukisan yang penggambaran bentuknya dibuat sedemikian rupa (dengan penggayaan) sehingga terkesan indah dan elok. Tokoh aliran ini ialah Kartono Yudhokusumo dan Amri Yahya.

8. Aliran Pointilisme

Aliran Pointilisme, yaitu ciri lukisan yang dibentuk dari kumpulan titik warna, dan jika dilihat dari jarak tertentu membentuk lukisan yang realistik, ekspresif, dan artistik. Pelukis aliran ini ialah Rijaman dan Keo Budi Harijanto.

9. Aliran Pop Art

Seni Pop atau Pop Art mula-mula berkemang di Amerika pada tahun 1956. nama aslinya adalah Popular Images. Seni ini muncul karena kejenuhan dengan seni tanpa obyek dan mengingatkan kita akan keadaaan sekeliling yang telah lama kita lupakan. Dalam mengambil obyek tidak memilih-milih, apa yang mereka jumpai dijadikan obyek.

Bahkan bisa saja mereka mengambil sepasang sandal disandarkan diatas rongsokan meja kemudian diatur sedemikian rupa dan akhirnya dipamerkan.

Kesan umum dari karya-karya Pop art menampilkan suasana sindiran, karikaturis, humor dan apa adanya.
Di Indonesia yang menganut aliran ini adalah seniman-seniman yang memproklamirkan diri :Kaum Seni Rupa Baru Indonesia”.

10. Aliran Optical Art

Aliran Senirupa Optical Art disebut juga Retinal Art yaitu corak seni lukis yang penggambarannya merupakan susunan geometris dengan pengulangan yang teratur rapi, bisa seperti papan catur. Karya ini menarik perhatian karena warnanya yang cemerlang dan seakan mengecohkan mata dengan ilusi ruang. Tokoh corak ini salah satunya adalah AT Sitompul


11. Aliran Trick Art

Aliran Trick Art merupakan seni lukis dua dimensi dengan menggunakan ilusi visual sehingga terlihat seperti nyata (tiga dimensi). Lukisan sejenis ini pertama dibuat pada 1984 oleh seniman Jepang, Kazumune Kenju dengan lukisan mural dinding. Lukisan itu akhirnya dapat dinikmati masyarakat luas dan pada 1991 di Museum Trick Art yang berdiri untuk pertama kalinya di dunia.


Read more

Lukisan Misterius

Lukisan merupakan sebuah karya seni yang dibuat oleh manusia terkadang lukisan memiliki nilai jual yang tinggi tergantung seberapa bagus lukisan itu dibuat. Namun lukisan lukisan nerikut ini selain memiliki nilai karya seni yang bagus ternyata menyimpan sejuta misteri yang ada di dalamnya nah kamumau tahu lukisan apa di Indonesia yang menyimpan misteri simak 3 Misteri Lukisan di Indonesia berikut ini.

1. Lukisan tangan pertama di Sulawesi Selatan


Lukisan tangan di goa ini pertama kali ditemukan oleh C.H.M. Heeren-Palm pada tahun 1950 di Leang PattaE. Didalam goa ini kamu akan melihat sebuah lukisan yang sedikit  aneh dengan beberapa cap cap tangan dengan latar belakang lukisan berwarna merah. Diyakini jika cap tangan ini merupakantangan kiri perempua yang membuat lukisan ini namun sampai saat ini masih belum diketahui siapa yang telah membuat lukisan digua ini.

2. Lukisan Anoa di Gua Sumpangbita

 Foto diatas  adalah lukisan Anoa yang terukir pada dinding Gua Sumpangbita, Pangkep, Sulawesi Selatan.

3. Lukisan misterius di Maluku


Di Maluku, penemu lukisan dinding gua adalah J. Roder pada tahun 1937. Roder menemuan lukisan gua sebanyak 100 buah di Pulau Seram, pada dinding karang di atas Sungai Tala. Lukisan yang ditemukan Roder ditaksirkan berupa gambar-gambar rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, dan mata. Selain ditemukan di Pulau Seram, lukisan cadas juga ditemukan di Kepulauan Kei. Dimana lukisan pada Kepulauan Kei terukir pada tebing batu karang setinggi 5-10 meter di atas permukaan laut. Lukisan-lukisan yang ditemukan di Kepulauan Kei pada umumnya hanya berupa garis lurus saja, tetapiada yang diberi warna pada bagian dalamnya, khususnya untuk gambar manusia.


Read more

Seni Rupa Murni dan Seni Rupa Terapan



Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.
Seni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori yaitu:

    1. SENI RUPA MURNI
    2. SENI RUPA KRIYA
    3. SENI RUPA DESAIN

Dua kategori terakhir kemudian lebih dikenal dengan sebutan Seni Rupa Terapan. Seni rupa murni mengacu kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan ekspresi pribadi. Sementara kriya dan desain, lebih mementingkan fungsi dan kemudahan produksi.

Secara umum, terjemahan seni rupa di dalam bahasa Inggris adalah “Fine Art”. Namun, sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah “Fine Art” menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan seni rupa desain dan seni rupa kriya ke dalam bahasa “Visual Arts” atau “Applied Arts” atau dalam bahasa indonesia adalah seni rupa terapan.

Seni rupa terapan mengacu kepada aplikasi desain dan estetika terhadap benda-benda yang dipergunakan manusia sehari-harinya. Sementara seni rupa murni, diciptakan hanya untuk pemuasan ekspresi pribadi, seni rupa terapan menggunakan desain dan idealisme kreatif untuk menciptakan benda-benda keperluan sehari-hari, seperti cangkir atau bangku, dekorasi taman.

Bidang-bidang seperti desain industri, desain grafis, desain interior, seni dekorasi, dan seni fungsional, merupakan contoh-contoh seni rupa terapan. Dalam konteks kreatif dan abstrak, bidang arsitektur dan fotografi juga dianggap sebagai seni rupa terapan.


Seni Rupa Murni

Seni rupa murni (pare/fine art) merupakan seni rupa yang tidak memperhatikan unsur praktis. Karya seni rupa murni diciptakan khusus berdasarkan kreativitas dan ekspresi pribadi
pembuatnya.

Dalam seni rupa murni, terdapat beberapa aliran gaya. Aliran gaya, yaitu aliran dalam gerakan seni rupa yang memiliki ideologi dan ciri khas yang unik dan baru dalam karya-karya yang dihasilkannya. Aliran seni rupa, di antaranya romantisme, ekspresionistne, impresionisme, dan surcalisme. Cabang-cabang seni rupa murni, di antaranya sebagai berikut.

- Seni Lukis
Seni lukis merupakan cabang seni rupa murni yang karyanya berwujud dua dimensi. Karya seni lukis, umumnya dibuat di atas kain kanvas dengan menggunakan cat minyak atau cat akrilik. Karya seni lukis bergaya naturalis (potert) dibuat sesuai dengan objek aslinya, misalnya pemandangan alam, manusia, atau binatang. Karya lukis bergaya ekspresionis (penuh perasaan) dibuat sesuai dengan ekspresi emosi pelukisnya, seperti dalam pemilihan objek, figur, warna, dan garis. Karya lukis abstrak, berbentuk tidak nyata atau tersamar sesuai dengan khayalan pelukisnya sehingga kurang dimengerti oleh orang awam. Namun, karya lukis abstrak mengandung berbagai alternatif baru dalam karya seni rupa.

- Seni Grafis
Seni grafis merupakan cabang seni rupa murni yang karyanya berwujud dua dimensi. Seni grafis dapat dibuat dengan teknik sablon (cetak saring), cukil kayu (cetakan), etsa (pengasaman pada bahan metal), dan lito (pencetakan dengan batu litho).

- Seni Patung
Seni patung merupakan cabang seni rupa murni yang karyanya berbentuk tiga dimensi. Bahan yang digunakan untuk membuat patung, di antaranya kayu, batu, atau logam. Karya patung yang besar biasa disebut seni monumental.

- Seni Keramik
Seni keramik dapat juga dikategorikan sebagai cabang seni rupa murni yang karyanya berwujud tiga dimensi. Keramik dibuat dengan menggunakan bahan utama tempung, kaolin, atau tanah.

Pengertian Seni Rupa Terapan

Senirupa Terapan atau biasa disebut dengan istilah Applied Art adalah suatu karya senirupa yang memiliki nilai kegunaan atau fungsional sekaligus memiliki nilai seni. Karya seni rupa ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan praktis atau pemenuhan kebutuhan sehari-hari secara materi, misalnya furniture, tekstil dan keramik.

Pembagian Karya Senirupa Terapan

Supaya lebih mudah memahami dan mengerti tentang senirupa terapan, maka senirupa terapan dibagi dalam beberapa kategori seperti kategori menurut fungsinya, wujudnya serta jenis- jenis bentuknya.
Pembagian Senirupa Terapan Berdasarkan fungsi.

Karya seni rupa terapan memiliki dua fungsi sebagai berikut.

a. Pemenuhan kebutuhan yang bersifat praktis (kegunaan), yaitu karya yang fungsi pokoknya sebagai benda pakai, selain juga memiliki nilai hias. Misalnya, perabotan rumah tangga, seperti meja dan kursi, lemari, dan tekstil.

b. Pemenuhan kebutuhan yang bersifat estetis (keindahan), yaitu fungsi yang semata-mata sebagai benda hias. Misalnya, karya batik atau tenun yang dibuat khusus untuk hiasan dinding dan benda-banda kerajinan untuk penghias ruangan, seperti topeng, patung, dan vas bunga.

Pembagian Senirupa Terapan berdasarkan Wujudnya

Berdasarkan wujud fisiknya, karya seni rupa terapan dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

a. Karya seni rupa terapan dua dimensi (dwimatra) Karya seni rupa terapan dua dimensi, yaitu karya seni rupa yang mempunyai ukuran panjang dan lebar dan hanya bisa dilihat dari satu arah. Misalnya, wayang kulit, tenun, dan batik.

b. Karya seni rupa terapan tiga dimensi (trimatra) Karya seni rupa terapan tiga dimensi, yaitu karya seni rupa yang dapat dilihat dari segala arah dan memiliki volume (ruang). Misalnya, rumah adat, senjata tradisional seperti rencong dan pedang, serta patung

Pembagian Senirupa Terapan berdasarkan Bentuknya

Karya seni rupa terapan yang terdapat di Indonesia sangat beragam dengan aneka jenis, bentuk, fungsi, dan teknik pembuatannya. Bentuk karya seni rupa terapan tersebut disini kami membaginya dalam empat kategori :

    - Rumah adat
    - Senjata Tradisional
    - Transportasi Tradisional
    - dan terakhir Seni Kriya



Read more

Seni Rupa

Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.

Seni rupa dilihat dari segi fungsinya dibedakan antara seni rupa murni dan seni rupa terapan, proses penciptaan seni rupa murni lebih menitik beratkan pada ekspresi jiwa semata misalnya lukisan, sedangkan seni rupa terapan proses pembuatannya memiliki tujuan dan fungsi tertentu misalnya seni kriya. Sedangkan, jika ditinjau dari segi wujud dan bentuknya, seni rupa terbagi 2 yaitu seni rupa 2 dimensi yang hanya memiliki panjang dan lebar saja dan seni rupa 3 dimensi yang memiliki panjang lebar serta ruang.

Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts.

Seni rupa murni
    Seni lukis
    Seni grafis
    Seni patung
    Seni instalasi
    Seni pertunjukan
    Seni keramik
    Seni film
    Seni koreografi
    Seni fotografi

Desain

    Arsitektur
    Desain grafis
    Desain komunikasi visual
    Desain interior
    Desain busana
    Desain produk

Kriya

    Kriya tekstil
    Kriya kayu
    Kriya keramik
    Kriya rotan

Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.

1.  SENI RUPA TRADISIONAL

Pengertian: Seni tradisional adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum/puak/suku/bangsa tertentu. Seni tradisional yang ada di suatu daerah berbeda dengan yang ada di daerah lain, meski pun tidak menutup kemungkinan adanya seni tradisional yang mirip antara dua daerah yang berdekatan.

Ciri-ciri:  Penciptaannya selalu berdasarkan pada filosofi sebuah aktivitas dalam suatu budaya, bisa berupa aktivitas religius maupun seremonial/istanasentris, serta terikat dengan pakem-pakem tertentu.

Contoh: Wayang kulit, wayang golek, wayang beber, ornamen pada rumah-rumah tradisional di tiap daerah, batik, songket, dan lain-lain.

2.  SENI RUPA MODERN

Pengertian: Seni rupa modern adalah seni rupa yang tidak terbatas pada kebudayaan suatu adat atau daerah, namun tetap berdasarkan sebuah filosofi dan aliran-aliran seni rupa.

Ciri-ciri: Konsep penciptaannya tetap berbasis pada sebuah filosofi , tetapi jangkauan penjabaran visualisasinya tidak terbatas, serta tidak terikat pada pakem-pakem tertentu.

Contoh: Lukisan-lukisan karya Raden Saleh Syarif Bustaman, Basuki Abdullah, Affandi, S.Soedjojono dan pelukis era modern lainnya.

Seniman: Raden Saleh Syarif Bustaman, Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi, Wahid Somantri, Agus Jaya Suminta, S. Soedjojono, Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S, Tutur, dan Emira Sunarsa.

3. SENI RUPA KONTEMPORER

Pengertian: Seni Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Jadi seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Misalnya lukisan yang tidak lagi terikat pada Rennaissance. Begitu pula dengan tarian, lebih kreatif dan modern.

Ciri-ciri: Tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman, serta Tidak adanya sekat antara berbagai disiplin seni, alias meleburnya batas-batas antara seni lukis, patung, grafis, kriya, teater, tari, musik, hingga aksi politik.

Contoh: Karya-karya happening art, karya-karya Christo dan berbagai karya enviromental art.
Seniman Gregorius Sidharta, Christo, dan Saptoadi Nugroho.

Mempelajari seni rupa pada dasarnya mempelajari peradaban manusia.

Sejarah peradaban tidak dapat dipisah-pisahkan, karena pada dasarnyakesenian antar bangsa memberi dan menerima pengaruh. Namun untuk mempermudah cara mempelajarinya perlu diadakan pengelompokkan.


Secara kronologis sejarah seni rupa manca negara/ dunia dapat dikelompokkan sebagai berikut.
1.Seni Rupa Timur Purba
a.Seni Mesir.
b.Seni Mesopotamia.
c.Seni Mediterania.
2.Seni Rupa Eropa Klasik.
a.Seni Yunani
b.Seni Romawi.
3.Seni Abad Pertengahan.
a.Seni Masa Pembenyukan
b.Seni Masa Gemilang.
c.Seni MAsa Kemunduran.
4.Seni Renaissance
a.Seni Renaissance.
b.Seni Barok.
c.Seni Rococo.
5.Seni Modern.

Para ahli berpendapat bahwa seni rupa Barat modern pada dasarnya bersumber dari zaman Yunani dan Romawi yang disebut zaman Klasik. Kebudayaan Yunani tersebut dibawa ke Eropa Barat melalui Roma.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada awal abad ke-19 menyebabkan munculnya berbagai
produk. Keadaan ini akhirnya mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, tak terkecuali di bidang seni rupa.

Perhatian manusia cenderung pada hal-hal yang bersifat material, hal ini menyebabkan pemberontakan
seniman. Pemberontakan seniman termanifestasikan dalam bentuk-bentuk kreativitas, sehingga di dunia
perkembangan seni rupa lahir aliran-aliran dalam seni rupa yang saling menerusakan atau menentang aliran-
aliran sebelumnya.

1. Aliran Neo-Klasik

Pecahnya revolusi Perancis pada tahun 1789, merupakan titik akhir dari kekuasaan feodalisme di Perancis yang pengaruhnya terasa juga ke bagian-bagian dunia lainnya. Revolusi ini tidak hanya perubahan tata politik dan tata social, tetapi juga menyangkut kehidupan seni. Para seniman menjadi bebas dalam memperturutkan panggilan hati masing-masing, dimana mereka berkarya bukan karena adanya pesanan, melainkan semata-mata ingin melukis saja.

Maka dengan demikian mulailah riwayat seni lukis modern dalam sejarah yang ditandai dengan individualisasi dan isolasi diri. Jacques Louis David adalah pelukis pertama dalam babakan modern. Pada tahun 1784, David melukiskan “SUMPAH HORATII”. Lukisan ini menggambarkan Horatius , bapak yang berdiri di tengah ruangan sedang mengangkat sumpah tiga anak laki-lakinya yang bergerombol di kiri, sementara anak perempuannya menangis di sebelah kanan.

Lukisan ini tidak digunakan untuk kenikmatan, melainkan untuk mendidik, menanamkan kesadaran anggota masyarakat atas tanggung jawabnya terhadap Negara. J.L. David merupakan pelopor aliran Neo-Klasik, dimana lukisan Neo-Klasik bersifat Rasional, objektif, penuh dengan disiplin dan beraturan serta bersifat klasik.

Ciri-cirinya Lukisan Neo-Klasik :

a. Lukisan terikat pada norma-norma intelektual akademis.
b. Bentuk selalu seimbang dan harmonis.
c. Batasan-batasan warna bersifat bersih dan statis.
d. Raut muka tenang dan berkesan agung.
e. Berisi cerita lingkungan istana.
f. Cenderung dilebih-lebihkan.

Tokoh penerus J.L. David dalam Neo-Klasik adalah JEAN AUGUAST DOMINIQUE INGRES (1780-1867)

2. Aliran Romantik

Aliran Romantik merupakan pemberontakan terhadap aliran Neo-Klasik, dimana Jean Jacques Rousseau mengajak kembali pada alam, sebagai manusia yang tidak hanya memiliki pikiran tetapi juga memiliki perasaan dan emosi.

Lukisan-lukisan romantik cenderung menampilkan :
- Hal yang berurusan dengan perasaan seseorang (sangat ditentang dalam aliran Neo- Klasik)
- Eksotik, kerinduan pada masa lalu
- Digunakan untuk perasaan dari penontonnya
- Kecantikan dan ketampanan selalu dilukiskan

Ciri-ciri aliran Romantis sebagai berikut :
a. Lukisan mengandung cerita yang dahsyat dan emosional.
b. Penuh gerak dan dinamis.
c. Warna bersifat kontras dan meriah.
d. Pengaturan komposisi dinamis.
e. Mengandung kegetiran dan menyentuh perasaan.
f. Kedahsyatan melebihi kenyataan.

Tokoh-tokhnya antara lain :
a. Eugene Delacroix
b. Theodore Gericault
c. Jean Baptiste
d. Jean Francois Millet

Tokoh yang betul-betul pemberontak dan pertama kali menancapkan panji-panji romantisme adalah Teodore Gericault (1791-1824) dengan karyanya yang berjudul “RAKIT MENDUSA”. Romantisme berasal dari bahasa Perancis “Roman” (cerita), sehingga aliran ini selalu melukiskan sebuah cerita tentang perbuatan besar atau tragedy yang dahsyat.

3. Aliran Realisme

Realisme merupakan aliran yang memandang dunia tanpa ilusi, mereka menggunakan penghayatan untuk menemukan dunia. Salah seorang tokoh Realisme yang bernama “Courbet” dari Perancis mengatakan :

“TUNJUKANLAH KEPADAKU MALAIKAT, MAKA AKU AKAN MELUKISNYA, artinya ia tidak akan melukis sesuatu yang tidak ditunjukkan kepadanya (sesuatu yang tidak real/nyata). Aliran Realisme selalu melukiskan apa saja yang dijumpainya tanpa pandang bulu dan tanpa ada idealisasi, distorsi atau pengolahan-pengolahan lainnya. Gustave Courbet (1819-1877) memandang bahwa lukisan itu pada dasarnya seni yang kongkrit. Lukisan-lukisan Courbet selalu menampilkan kenyataan hidup yang pahit seperti “Lukisan Pemecah Batu” dll.

Tokoh : Jean Francois, Millet dan Honore Daumier.

4. Aliran Naturalisme

Aliran Naturalisme adalah aliran yang mencintai dan memuja alam dengan segenap isinya. Penganut aliran ini berusaha untuk melukiskan keadaan alam, khususnya dari aspek yang menarik, sehingga lukisan Naturalisme selalu bertemakan keindahan alam dan isinya. Monet merupakan salah satu tokoh pelukis Naturalisme, tetapi terkadang lukisannya mendekati Realisme. Meskipun lukisan Naturalistiknya Monet yang mendekati Realisme, tetapi sangat berbeda dengan lukisan Gustave Courbert sebagai tokoh realisme.

Realismenya Courbert bersifat sosialistik yang moralitasnya cukup tinggi, sedangkan realismenya Monet cenderung melukiskan yang indah-indah dan amoral, karena prinsip Monet adalah “seni untuk kepentingan seni, bukan untuk apapun. Para pelukis Naturalisme sering dijuluki sebagai pelukis pemandangan. Tokoh Naturalisme yang berasal dari Inggris adalah Thomas Gainsbrough (1727-1788).

Tokohnya antara lain John Constable, William Hogart, Frans Hall.

5. Aliran Impresionis

Apabila ada orang mendengar istilah Impresionisme, maka asosiasi mereka biasanya tertuju pada lukisan-lukisan yang impresif, yaitu lukisan yang agak kabur dan tidak mendetail. Claud Monet bukan tokoh impresionisme, tetapi aliran impresionisme banyak diilhami oleh penemuan-penemuan Claud Monet dalam setiap lukisannya. Seorang tokoh impresionisme dari Prancis bernama Piere Auguste Renoir (1841-1919).

Pelukis ini sangat gemar melukis wanita, baik dalam kondisi berpakaian maupun tanpa busana. Lukisan impresionis sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, karena melukis dilakukan di luar studio. Lukisan impresionis biasanya tidak mempunyai kontur yang jelas dan nampak hanya efek-efek warna yang membentuk wujud tertentu.

Tokohnya : Eduard Manet, Claude Monet,Auguste Renoir, Edward Degas dan Mary Cassat.

6. Aliran Ekspresionisme

Pada tahun 1990-an, para pelukis mulai tidak puas dengan karya yang hanya menonjolkan bentuk-bentuk objek. Mereka mulai menggali hal-hal yang berhubungan dengan batin, sehingga muncullah aliran ekspresionisme. Vincent Van Gogh (1850) adalah tokoh yang menjadi tonggak kemunculan aliran ekspresionisme dan tokoh lain yang mengikuti adalah Paul Cezanne, Paul Gauguin, Emil Nolde dan di Indonesia yaitu Affandi. Ekspresionisme merupakan aliran yang melukiskan aktualitas yang sudah didistorsikan ke arah suasana kesedihan, kekerasan ataupun tekanan batin.

Pelopornya adalah Vincent Van Gogh, Paul Klee, Emile Nolde, W . Kandinsky, dan Edvard Munch.

7. Aliran Fauvisme

Nama fauvisme berasal dari bahas Prancis “Les Fauves”, yang artinya binatang liar. Aliran fauvisme sangat mengagungkan kebebasan berekspresi, sehingga banyak objek lukisan yang dibuat kontras dengan aslinya seperti pohon berwana 0ranye/jingga atau lainnya. Lukisan-lukisan fauvis betul-betul membebaskan diri dari batasan-batasan aliran sebelumnya.

Pelukis fauvisme cenderung melukis apa yang mereka sukai tanpa memikirkan isi dan arti dari sebuah lukisan yang dibuat. Maurice De Vlaminck, merupakan tokoh fauvisme yang banyak terinspirasi oleh goresan warna Vincent Van Gogh, sampai-sampai ia berkata ; Saya lebih mencintai Van Gogh dari pada Ayah saya.

Tokoh-tokohnya Antara lain Henr y Matisse, Andre, Derain, Maurice de Vlaminc.

8. Aliran Kubisme

Aliran kubisme dilatar belakangi oleh konsep Paul Cezanne yang mengatakanbahwa bentuk dasar dari segala bentuk adalah silinder , bola, balok dan semua bentuk yang ada di dalam di pengaruhi oleh perspektif, sehingga bidang tertuju pada satu titik tengah. Karya Picasso menjadi insfirasi kemunculan karya- karya kubisme, karena motif geometris digunakan oleh Picasso.

Lukisan kubisme mengedepankan bentuk-bentuk germetris. Tokoh kubisme yang sangat terkenal adalah Picasso dan Paul Cezanne, tetapi di samping kedua tokoh ini masih banyak tokoh lain yg menganut Kubisme seperti Juan Gris dll.

9. Aliran Abstraksionisme

Aliran Abstraksionime adalah aliran yg berusaha melepaskan diri dari sensasi-sensasi atau asosiasis figuratif suatu obyek. Aliran Abstraksionis di bedakan menjadi dua yaitu.

Abstrak kubistis

Yaitu abstrak dalam bentuk geometrik murni seperti lingkaran kubus dan segi tiga
Tokoh aliraran ini berasal dari Rusia yaitu Malivich [1913]

Abstrak Nonfiguratif

Yaitu abstrak dalam arti seni lukis haruslah murni sebagai ugkapan perasaan, di mana garis mewakili garis ,warna mewakili warna dan sebagainya. Bentuk alami ditinggalkan sama sekali. Tokohnya adalah Wassily kadinsky, Naum Goba.

10. Aliran Futuris

Aliran Futuris muncul di Itali pada tahun 1909, sebagai reaksi terhadap aliran kubisme yang dianggap dinamis penuh gerak, karena itu temanya cenderung menggambarkan kesibukan-kesibukan seperti,pesta arak-arakan, perang dll.

Tokoh aliran ini antara lain :

- Carlo Carra
- Buido Severini
- Umbirto Boccioni
- F.T Marineti

11. Aliran dadaisme

Aliran dadaisme merupakan pemberontak konsep dari konsep aliran sebelumnya. Aliran ini mepunyai sikap memerdekakan diri dari hukum-hukum seni yg telah berlaku. Ciri aliran ini sinis, nihil dan berusaha meleyapkan ilusi. Aliran ini dilatar belakangi oleh perang dunia pertama yg tak kunjung berhenti.

Perang yg tak kunjung padam memberi kesan hilangnya nilai sosial dari nilai estetika di muka bumi, sehinga pandangan dadaisme tidak ada estetika dalam karya seni. Tokoh Dadisme adalah Paul klee, Scwitters Tritan Tzara, Maron Janco dll.

12. Aliran Surealisme.

Aliran surealis banyak di pengaruhi oleh teori analisis psikologis. Sigmund Freud mengenai ketidak sadaran dalam anatomisme dan impian. Surealisme sering tampil tidak logis dan penuh fantasi, seakan-akan melukis dalam mimpi.


Read more

Galeri Nasional Indonesia


Galeri Nasional Indonesia hadir sebagai sebuah lembaga museum (Art Museum) dan pusat kegiatan seni rupa yang resmi beroperasi sejak 8 Mei 1999. Institusi ini mengemban peran penting dalam meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap karya-karya seni rupa  melalui agenda perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan karya-karya seni rupa di Indonesia.

Keberadaan Galeri Nasional Indonesia memberikan peluang bagi masyarakat umum, pelajar dan pecinta seni untuk memanfaatkan sarana yang bermuatan edukatif, kultural dan rekreatif. Galeri Nasional Indonesia semakin penting kehadirannya sebagai salah satu museum seni rupa di Indonesia yang memiliki sekitar 1750 koleksi karya-karya seni rupa.

Galeri Nasional Indonesia dalam memantapkan langkahnya di masa mendatang diharapkan akan menjadi barometer perkembangan seni rupa Indonesia serta sekaligus menjadi fasilitator dalam pengembangan potensi perupa Indonesia dalam peta regional dan internasional.

Tugas

Galeri Nasional Indonesia memiliki tugas melaksanakan pengkajian, pengumpulan, registrasi, perawatan, pengamanan, pameran, dan publikasi karya seni rupa.

Fungsi

Dalam melaksanakan tugas itu, Galeri Nasional Indonesia menyelenggarakan fungsi :

a.  pelaksanaan pengkajian karya seni rupa;
b.  pelaksanaan pengumpulan dan registrasi karya seni rupa;
c.  pelaksanaan perawatan dan pengamanan karya seni rupa;
d.  pelaksanaan pameran karya seni rupa;
e.  pelaksanaan kemitraan di bidang karya seni rupa;
f.   pelaksanaan layanan edukasi di bidang karya seni rupa;
g.  pelaksanaan pendokumentasian dan publikasi karya seni rupa;
h. pelaksanaan urusan ketatausahaan Galeri Nasional Indonesia.


Read more

Museum Seni Rupa H. Widayat


Museum Seni Rupa H. Widayat berdiri diatas areal tanah seluas ± 7.000 m2 terletak di jalur wisata diantara candi Mendut dan candi Borobudur, kira-kira 2 kilometer sebelum memasuki area Candi Borobudur, tepatnya di Jl. Letnan Tukiyat 32 Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Museum Haji Widayat terdiri atas 3 bangunan utama, MUSEUM H. WIDAYAT, GALERI HJ. SOEWARNI (d/h GALERI WIDAYAT) dan ART SHOP HJ. SOEMINI, serta AREA TAMAN yang dimanfaatkan untuk meletakkan karya seni outdoor, dibangun tahap demi tahap sesuai dengan perluasan area dan peruntukannya.

Museum Haji Widayat adalah wujud nyata dari sebuah impian, obsesi dan prestasi dari pelukis H. Widayat. Impian dan obsesinya untuk memelihara dan mengabadikan karya-karya pelukis muda, khususnya mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia/ASRI (Institut Seni Indonesia/ISI).
Selama lebih dari 40 tahun, sebelum akhirnya terealisasi, memiliki museum merupakan cita-cita H. Widayat. Mungkin itu adalah obsesi terbesar dari seorang H. Widayat. Bukan saja sebagai tempat memamerkan karya-karya pribadinya maupun karya-karya pelukis dan perupa lain, tetapi sebagai seniman yang menjadi dosen Akademi Seni Rupa Indonesia, motivasi utamanya adalah menjadikan museum pribadinya sebagai tempat untuk belajar dan mengapresiasi karya seni. Sepulang dari belajar di Jepang pada tahun 1962, usulan untuk membuat museum ini muncul dan disodorkan oleh kawan dekatnya, Fadjar Sidik. Ide mendirikan museum ini sebenarnya bermula dari keprihatinan Widayat, yang pada saat itu sudah Pensiun dari Staf Pengajar di Fakultas Seni Rupa (FSR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, melihat koleksi karya-karya mahasiswa yang hanya bertumpuk di gudang, bahkan banyak yang hilang diambil orang. Peristiwa itulah yang mendorong munculnya usulan Fadjar Sidik yang lantas direalisasikannya setapak demi setapak.

Museum H. Widayat dibangun tahun 1991 dan diresmikan pembukaannya pada tanggal 30 April 1994 oleh Prof. DR. Ing. Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Konsep H. Widayat akan museum pribadinya dituangkan dalam disain oleh arsitek Ir. H. Edji Sukedji yang dikenal pada saat sama-sama menunaikan ibadah haji. Bangunan Museum diatas tanah seluas ± 5.000 m2 terdiri atas 2 lantai dengan luas bangunan ± 2.500 m2, yang pencahayaannya memanfaatkan sinar matahari yang menembus dinding-dinding kaca, terdiri atas RUANG PAMER LANTAI 1 yang peruntukannya ditujukan untuk mendisplay/memamerkan karya-karya H. Widayat dalam berbagai media, sedangkan RUANG PAMER LANTAI 2 dipergunakan sebagai tempat untuk mendisplay/memamerkan karya-karya seniman lain yang merupakan koleksi Museum H. Widayat.

Pada awal pendiriannya selain bangunan museum, H. Widayat juga mendirikan tempat tinggal merangkap studionya serta guest house sebagai tempat untuk menginap para tamu-tamunya.

Museum ini dimaksudkan untuk memamerkan karya seni rupa yang telah dipilih oleh almarhum H. Widayat bersama Dewan Kurator menjadi koleksi tetap agar tetap dapat di nikmati oleh pecinta seni ataupun khalayak.Pembangunan museum selesai pada awal tahun 1994 dan diresmikan pada 30 April 1994 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Ing. Wardiman Djojonegoro.





Read more

Museum Puri Lukisan


Museum Puri Lukisan merupakan museum privat pertama di Bali yang menyimpan koleksi karya lukis dan pahat. Sebagai "the heritage of Balinese Art", museum ini banyak mengoleksi karya-karya naratif yang menggambarkan kepercayaan dan adat Bali.

Nama Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan Tjokorda Agung memang tak bisa lepas dari sejarah Museum Puri Lukisan. Atas kecintaan mereka pada karya seni tradisional Bali yang unik, mereka membangun sebuah museum yang menyimpan berbagai karya seni dari pre-war era hingga post-war era. Museum yang terbagi menjadi 3 bangunan ini mengoleksi karya dari seniman terkenal Bali seperti Ida Bagus Nyana, Ida Bagus Gelgel,I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gde Sobrat, dan I Gusti Made Deblog.

Menjelajahi museum ini kita serasa dibawa ke masa lampau. Ketika memasuki bangunan 1 yang terletak di sisi utara museum, kita akan menjumpai karya-karya pre-war era (sebelum 1945) dari para seniman. Lukisan karya dari I Gusti Nyoman Lempad yang disebut sebagai "Renaissance Man"-nya Bali juga bisa kita lihat di sini. Ciri khas karya Lempad terletak pada sosok-sosok yang menonjol lewat tinta hitam di atas kerta putih sehingga kita akan merujuk pada sosok wayang kulit di atas layar putih. Sebutan "a true master" pun tersemat untuk Lempad karena kejeniusannya dalam bidang artistik. Lempad juga memiliki banyak talenta termasuk melukis, memahat, dan dalam bidang arsitektur. Lempad pula lah yang mendesain istana dan puri-puri di Ubud dan Museum Puri Lukisan. Karya-karya Lempad sangat naratif dan terinspirasi dari kisah Ramayana, Mahabarata, Bharatayudha, serta kisah rakyat dan mitologi Bali. Misalnya saja "The Dream of Dharmawangsa", salah satu lukisan masterpiece Lempad yang terinspirasi dari kisah epik Mahabarata.

Menuju ke gedung II yang terletak di sayap barat, lukisan-lukisan dari "Young Artists" akan menyambut kita. Aliran "Young Artist" sendiri merupakan karya yang memadukan gaya tradisional Bali dan gaya modern. Lukisan karya I Nyoman Dewa Batuan "Mandala" lah yang memiliki magnet tersendiri ketika kami memasuki ruangan ini. Lukisan teratai dengan 8 kelopak yang menunjukkan delapan arah mata angin yang masing-masing ditempati dewa-dewa menunjukkan suatu harmonisasi. Manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) yang menciptakan dan merawat alam semesta dan segala isinya terlihat jelas lewat lukisan ini.

Sedangkan di gedung III yang merupakan bangunan untuk mengoleksi karya-karya dengan gaya wayang dan biasa digunakan untuk pameran temporari menjadi tujuan paling akhir. Karya-karya post-war era (1945-sekarang) juga disimpan di gedung ini. Sembari melihat lukisan-lukisan yang banyak menceritakan cerita dan dongeng khas Bali, kita akan ditemani dengan alunan musik yang ditabuh oleh salah seorang pegawai. Kemudian, begitu keluar dari gedung-gedung yang menyimpan karya-karya, kita bisa menikmati indahnya taman tropis yang asri di dalam dan sekitar museum.


Read more

Museum dan Galeri Seni Rudana


Museum Rudana adalah sebuah museum seni yang berada di Ubud, Gianyar, Bali dan digunakan untuk memamerkan dan mempromosikan karya seni berupa lukisan dan patung karya seniman Bali. Di antara karya seni yang dipamerkan adalah karya dari I Gusti Nyoman Lempad (almarhum), Nyoman Gunarsa, Made Wianta,seniman Indonesia di luar Bali seperti Affandi (almarhum), Basuki Abdullah (almarhum), Srihadi Soedarsono, Sunaryo Sutono, maupun seniman asing yang tinggal di Bali seperti Antonio Blanco (almarhum), Arie Smit. Museum Rudana didirikan oleh Nyoman Rudana, seorang kolektor lukisan yang juga pemilik galeri seni Rudana Fine Art Gallery dan Genta Fine Art Gallery.

Museum Rudana didirikan atas dasar idealisme pendirinya, Nyoman Rudana, dimana seni merupakan hal yang universal, sebagai hasilnya, berkontribusi terhadap proses harmonisasi antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), antara manusia dengan manusia (pawongan) serta manusia dengn alam sekitarnya (palemahan) yang tercermin dalam konsep filosofis Bali Tri Hita Karana, dimana seni sangat berperan dalam membantu menyebar luaskan perdamaian, kemakmuran serta rasa persauda-raan di antara umat manusia sedunia. Visi humanisme Museum Rudana, yaitu untuk kemaslahatan (manfaat) umat manusia, merupakan filosofi perjuangan Nyoman Rudana dalam mengoleksi lukisan – lukisan yang kini dapat dinikmati di museum ini.

Visi Museum Rudana adalah untuk mempertahankan eksistensinya, mutlak bagi Museum Rudana untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, dengan melibatkan masyarakat dan seniman ke dalam aktivitas museum, serta menjalin hubungan baik dengan sesama museum khususnya di Bali,. Untuk itu Museum Rudana menjadi anggota HIMUSBA (Himpunan Museum Bali), dimana Nyoman Rudana merupakan salah satu penggagasnya dan saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Penasehat HIMUSBA sedangkan Putu Supadma Rudana, MBA menjadi Ketua III.

Dalam visinya untuk selalu menjadi yang terdepan dalam kancah senirupa Indonesia serta menjadikan dirinya sejajar dengan museum- museum besar di dunia, Museum Rudana terus menerus menjalin network dengan berbagai institusi museum internasional, terlebih melihat posisi Bali, sebagai salah satu sentra pariwisata di Asia tenggara, berpotensi menjadi satu titik jaringan museum di dunia.

Obsesi pendirian museum ini diawali saat Nyoman Rudana menyaksikan bahwa begitu banyak hasil karya seni kuno Indonesia diboyong ke luar negeri. Tergerak untuk melestarikan karya – karya seni terbaik anak bangsa inilah kemudian Museum Rudana ini didirikan.

Bangunan seluas 500 meter persegi ini didirikan di atas lahan seluas 2.500 meter persegi di Kawasan Seni Rudana di Peliatan, Ubud, Kabupaten Gianyar,Bali, satu kompleks dengan Rudana Fine Art Gallery. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 22 Desember 1990.

Museum sendiri dalam runtutan etimologinya berasal dari kata bahasa Latin musee, atau musea, yang artinya ilmu pengetahuan, cahaya yang menerangi serta kekayaan kepada kehidupan. Sejalan dengan perkembangan bahasa, arti kata museum berubah menjadi kata benda yang lebih kongkrit, yaitu gedung penyimpanan benda – benda yang bernilai untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Benda – benda yang ditampilkan di dalam museum tidak diperjual belikan, demikian juga dengan karya – karya seni yang ditampilkan di dalam Museum Rudana. Selain itu, sejalan dengan visi Nyoman Rudana sebagai pendiri untuk mendedikasikan Museum Rudana untuk dinikmati khalayak berbagai kalangan, Museum Rudana merupakan suatu institusi non profit.

Museum Rudana terdiri dari tiga lantai dengan memegang teguh arsitektur serta filosofi Bali. Ruangan museum dibangun berlantai 3 dimana disesuaikan dengan konsep Triangga, tiga bagian dari tubuh manusia, yaitu kepala , badan serta anggota gerak; Tri Mandalla , tiga pembagian halaman, jeroan, jaba tengah dan jaba sisi, atau halaman dalam, tengah dan luar; Tri Loka, konsep alam semesta yang terbagi atas bhur, bwah, swah atau alam bawah, menengah dan atas. Keseluruhnya konsep ini, yang dihubungkan dengan pengembangan seni budaya di Bali merupakan gambaran proses regenerasi dari waktu ke waktu yang lekang oleh zaman. Konsep filosofis ini, jika dikaitkan dengan perkembangan seni rupa, mencerminkan regenerasi seniman itu sendiri, dari masa silam sampai masa kini, bagaikan rangkaian benang emas yang tak terputus. Tampak luar Museum Rudana sendiri mencerminkan bendera merah putih, dilambangkan dengan dinding bata merah dan batu paras putih.

Berlokasi strategis di tengah lintas Ubud, Gianyar danDenpasar, Museum Rudana menjadi destinasi wisatawan pada masa sekarang ini, terlebih dengan semakin kondusifnya perkembangan dunia senirupa Indonesia.

Berlogo sama dengan Rudana Fine Art Gallery, yaitu Rama, sang ksatria dalam cerita Ramayana yang sedang menarik anak panahnya, yang melambangkan cinta sejatinya kepada Sinta. Sinta dilambangkan sebagai umat manusia, anak- anak Ibu Pertiwi. Di sini Nyoman Rudana secara simbolis mempersembahkan Museum Rudana untuk Indonesia, dalam skala mikro serta masyarakat dunia dalam skala makro, sebagai sarana belajar bagi bangsa Indonesia dalam memahami dan mengagumi karya bangsanya sendiri, termasuk karya- karya seni agung para seniman pada masa lampau. Sedangkan bagi penikmat seni manca negara, Museum Rudana merupakan jembatan yang memberikan benang merah antara sejarah seni rupa Indonesia pada masa lampau dengan seni rupa modern. Selain itu kesamaan logo tsb dimaksudkan bahwa Rudana Fine Art Gallery dan Museum Rudana merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.

Berbagai karya seni lukis dan seni patung dipamerkan dalam museum ini, baik karya seniman Bali, seniman Indonesia di luar Bali maupun seniman asing. Penataan karya seninya selalu diupayakan agar mencerminkan nilai- nilai tata ruang, nilai estetis yang harmonis dan selaras dengan konsep filosofi Bali. Karya seni lukis Bali klasik dipajang di lantai atas. Di sekelilingnya dipajang lukisan traditional Bali yang meliputi gaya Ubud, gaya Batuan, seperti misalnya karya- karya I Gusti Nyoman Lempad (almarhum), I Gusti Ketut Kobot, Ida Bagus Made, Wayan Bendi, Wayan Jujul dan lain sebagainya.

Di lantai tengah dan bawah dipajang karya seni lukis modern Indonesia seperti lukisan : Affandi (almarhum), Basuki Abdullah (almarhum), Soepono (almarhum), Dullah, Fadjar Sidik, Abas Alibasah, Srihadi Soedarsono, Roedyat, Kartika Affandi, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Made Budhiana, Wayan Darmika dan lain – lain.

Museum ini juga menampilkan karya – karya pelukis asing yang bermukim di Bali, seperti Antonio Blanco (Spanyol), Yuri Gorbachev (Rusia), Jafar Islah(Kuwait), serta Iyama Tadayuki (Jepang).

Acara pembukaan Museum Rudana dilakukan pada tanggal 11 Agustus 1995 sebagai bagian dari peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka. Presiden Soeharto meresmikannya dengan penandatanganan prasasti pada tanggal 26 Desember 1995. Sejak tahun 2004, sejalan dengan tugsnya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD)mewakili Propinsi Bali, Nyoman Rudana menyerahkan tongkat estafet kepada putra sulungnya Putu Supadma Rudana, MBA sebagai CEO dari Museum Rudana, sedangkan Rudana sendiri bereran sebagai Komisaris.

Museum Rudana merupakan puncak perwujudan impian Nyoman Rudana dalam bidang seni, yang dipersembahkan untuk rakyat Indonesia, negara serta simbol persaudaraan antara manusia di manapun berada. Proses pencapaian diibaratkannya sebagai proses kehidupan manusia itu sendiri, dari bayi, anak, sampai tumbuh menjadi manusia dewasa.

Museum Rudana, dengan koleksi lebih dari 400 lukisan dan patung, merupakan saksi sejarah perkembangan senirupa khususnya seni lukis di Indonesia.

Dalam perjalanannya, Museum Rudana memposisikan diri sebagai high end museum, yang dikunjungi oleh para tamu VIP dari berbagai Negara, seperti Presiden Cina Jiang Zemin tahun 1995, Presiden Hongaria, Bulgaria, Pakistan, mantan Presiden Amerika Jimmy Carter, Delegasi Dewan Rakyat Cina tahun 2005 dan lain – lain. Selain itu Museum Rudana rutin menggelar pameran baik yang dikaitkan dengan Hari Ulang Tahun nya di bulan Agustus yang selalu dikaitkan dengan HUT Kemerdekaan RI, maupun pameran – pameran lain dengan bekerjasama dengan seniman di Bali, luar Bali maupun seniman luar negeri.

Sebagai upaya memperkenalkan seni budaya Indonesia di manca negara, khsususnya seni lukis Indonesia, melalui Rudana Fine Art Gallery, Nyoman Rudana untuk pertama kalinya menggelar pameran lukisan besar di Jerman Barat (Dusseldorf, Sigbourg) serta di Berlin Barat dan Italia (Roma, Milano, Bergamo) pada bulan Agustus sampai Oktober 1981. Pada tahun 1991, Rudana bergabung ke dalam road show The Great Indonesian Exhibition yang diselenggarakan oleh KIAS (Kesenian Indonesia – Amerika Serikat) secara marathon di enam Negara Bagian yang berbeda di Amerika Serikat.

Setelah Museum Rudana berdiri, maka Nyoman Rudana membawa bendera Museum Rudana mengadakan pameran lukisan di Kuwaittanggal 14 – 24 Februari 1997 : Indonesian Arts of Bali Exhibition di Kuwait National Council for Culture, Art and Letters, Kuwait City, menampilkan koleksi lukisan Museum Rudana. Setahun berikutnya, 14 Nopember – 11 Desember 1998 kembali Museum Rudana berpameran di Kuwait mengusung tema Seven Indonesian Figurative Artists Exhibition dengan menampilkan pelukis Widayat,Sudarso, Mohammed, Erica Hestu Wahyuni, I Wayan Darmika, I Wayan Bendi,Abas Alibasah. Pameran diselenggarakan di Kuwait City, dalam rangkaian acara The Annual Qurain Festival.

Hal ini menunjukkan bahwa seni melampaui batas – batas negara serta agama, dimana seorang Rudana yang beragama Hindu, diterima dengan baik oleh Emir Kuwait dan karya – karya lukis yang berobjek manusia dan alam yang dipamerkannya akhirnya menjadi trend setter dalam dunia seni lukis di Kuwait, mengingat kala itu, hanya lukisan kaligrafilah yang mendominasi dunia seni lukis di kawasan Timur Tengah.

Selanjutnya pada tahun 2000, Musuem Rudana dan Rudana Fine Art Gallery berpameran di Roma, Italia,dan beberapa bulan kemudian, Nyoman Rudana kembali diundang ke Italia oleh pemerintah Italia untuk menerima penghargaan L’albero dell’umanita Award atau penghargaan Pohon Perdamaian.

Museum Rudana melakukan perhelatan pameran besar pada tahun 2007 dalam rangka ulang tahunnya yang ke -12, yang diselenggarakan tanggal 16 Agustus – 1 Januari 2008 Pameran bertajuk Modern Indonesian Masters ini menampilkan karya lukis dari delapan orang maestro seni lukis modern Indonesia serta para Masters in waiting (calon maestro), yaitu : Srihadi Soedarsono, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Sunaryo Sutono, Nyoman Erawan, Made Budiana, Made Djirna, Wayan Darmika. Di samping pameran lukisan, diselenggarakan pula pameran fotografi tanggal 16 – 31 Agustus 2007, bertajuk ‘KEDAMAIAN’ . Ini merupakan sebuah proyek seni fotografi yang melibatkan tiga seniman di tiga benua, yaitu Mohammad Bundhowi (Indonesia), Anna Niblic Heggie (Australia), Sandra Phillips (Kanada).

Nyoman Rudana menciptakan Ksatria Seni Award pada tahun 1999 sebagai wujud darma baktinya kepada para seniman Indonesia yang sudah memberi dukungan penuh kepadanya sehingga mampu mewujudkan cita – citanya dalam mendirikan Museum Rudana dan membesarkan Rudana Fine Art Gallery serta Genta Fine Art Gallery. Ide dasar penghargaan ini berasal dari cerita Ramayana,dengan menarik benang merah dari logo Rudana Fine Art Gallery dan Museum Rudana. Nyoman Rudana memilih anak panah Rama, sang ksatria, sebagai logo dari penghargaan seni ini. Anak panah ini melambangkan cinta Rama kepada Sinta istrinya, dimana Sinta merupakan gambaran dari Ibu Pertiwi. Ksatria Seni Award diberikan empat tahun sekali kepada individu,serta institusi yang dianggap berjasa dalam mengembangkan seni rupa di Indonesia. Selain itu kedamaian serta kemakmuran, berdasarkan toleransi dan harmonisasi antara manusia dengan Tuhannya, dengan sesamanya serta dengan alam sekitarnya, atau Tat Wam Asi, serta pembebasan dari hal – hal keduniawian atau Moksa Tam Jagat Dhitam, juga tercermin dalam desain penghargaan ini.

Penghargaan ini diberikan pertama kali pada 26 Desember 1999 antara lain kepada para almarhum / almarhumah Soekarno, Presiden pertama RI, ibu Hj.Siti Hartinah Soeharto, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, mantan gubernur Bali tahun 1978-1988 yang berjasa dalampelestarian budaya Bali, dan I Gusti Ketut Kobot, pelukis legendaris tradisional Bali. Sedangkan penghargaan kedua diberikan pada tanggal 8 Agustus 2004, kepada Srihadi Soedarsono, Nyoman Gunarsa, Made Wianta serta pelukis Malaysia yang bermukim di Bali, Mrs. Kumari Nahappan atas sumbangsihnya terhadap dunia seni lukis dan seni rupa Indonesia.


Read more

Museum Seni Rupa dan Keramik

Museum Seni Rupa dan Keramik
Museum Seni Rupa dan Keramik terletak di Jalan Pos Kota No 2, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Sejarah Jakarta itu memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia.

Gedung yang dibangun pada 12 Januari 1870 itu awalnya digunakan oleh Pemerintah Hindia-Belanda untuk Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia). Saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, tempat itu dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI.

Pada 10 Januari 1972, gedung dengan delapan tiang besar di bagian depan itu dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi. Tahun 1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat dan baru setelah itu diresmikan oleh Presiden (saat itu) Soeharto sebagai Balai Seni Rupa Jakarta.

Pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.
Pameran

Museum ini menyajikan koleksi dari hasil karya seniman-seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an hingga saat sekarang.

Koleksi Seni Lukis Indonesia dibagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan periodisasi yaitu:

    Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 - 1890)
    Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an)
    Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an)
    Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 - 1945)
    Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 - 1950)
    Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an)
    Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 - sekarang)

Untuk Koleksi seni rupa menampilkan patung-patung sepeti Totem Asmat dan lain-lain.

Sedangkan koleksi keramik menampilkan keramik dari beberapa daerah Indonesia dan seni kreatif kontemporer. Selain itu ada juga koleksi keramik dari mancanegara seperti keramik dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang dan Eropa dari abad 16 sampai dengan awal abad 20.

Koleksi Seni Rupa


Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki koleksi seni rupa berjumlah 490 koleksi, terdiri dari koleksi lukisan dan patung. Secara periodisasi sebagian karya Seni Lukis Indonesia terdapat dalam museum ini Koleksi lukisan tertua berupa lukisan Bupati Cianjur karya R. Saleh Syarif Bustaman (1807-1880). Dari masa Mooi Indie (1908-1936) terdapat koleksi lukisan yang mengacu pada keindahan karya Wakidi, M. Pirngadi, Ernest Dezentje serta Basuki Abdullah.

Masa Persagi/Persatuan Ahli Gambar Indonesia (1938) yang menjadi masa kebangkitan seni rupa Indonesia diwakili lukisan karya Agus Djaya, S. Sudjojono, Henk Ngantung, Emiria Sunassa, RGA Sukirno, dan lain - lain. Masa Revolusi/Pendirian Sanggar (1945) terdapat lukisan karya Sudjono Kerton, Affandi, Trubus, Hendra Gunawan, Barli Sasmita dan lain - lain. Kemudian dari masa Lahirnya Akademi (1950-an) terdapat hasil lukisan Kusnadi, Widayat, Bagong Kusudiardjo, Abas Alibasyah, Sunarto PR, Popo Iskandar, Ahmad Sadali, Srihadi, AD Pirous, Amang Rahman, Rudi Isbandi, OH Supono dan lain -lain. Tahun 1960-an terdapat koleksi Nyoman Gunarsa, Mulyadi, Joko Pekik dan lain - lain, Tahun 1970-an terdapat lukisan karya Abdulrahman, Sri Warso Wahono, Nunung WS dan lain - lain,

Pada tahun 1980-an terdapat lukisan karya Ivan Sagito, Dede Eri Supria, Sarnadi Adam, Subandiyo dan lain - lain. Kemudian dekade 90-an terdapat lukisan karya Nasirun dan I Made Sukadana. Koleksi patung berupa patung yang bercirikan klasik tradisional dari Bali, totem kayu magik dan simbolis karya I Wayan Tjokot dan keluarga besarnya, Totem dan patung kayu karya para seniman modern, antara lain G. Sidharta, Oesman Effendi, disusul karya - karya seniman lulusan akademisi sperti Mustika, Ibnu Nirwanto, Irawan dan Honda dan lain - lain. 

Koleksi Keramik 

Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki sekitar 8.500 koleksi keramik yang terdiri dari berbagai bentuk, ciri, karakteristik, fungsi serta gaya. Secara geografis koleksi keramik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keramik asing serta keramik lokal. Keramik asing berupa keramik Asia yang berasal dari Cina, Vietnam, Thailand, Jepang serta keramik Eropa yang berasal dari Belanda. Sementara keramik lokalnya berupa keramik kuno dari masa Majapahit serta keramik modern yang dihimpun dari berbagai sentra industri keramik di Indonesia.

Koleksi keramik tertua yang dimiliki oleh Museum Seni Rupa dan Keramik berasal dari Dinasti Tang (618 - 969 M) yang dikenal dengan Cangsa Ware serta Olive Green ware berbentuk guci. Selain dari dinasti Tang, koleksi keramik Cina berasal dari masa Dinasti Song (960 - 1279 M), Dinasti Yuan (1280 - 1368 M), Dinasti Ming (1369 - 1644 M) serta Dinasti Qing (1645 - 1912 M).

Keramik Vietnam berasal dari abad ke 14-18. Keramik Thailand berasal dari abad ke 14-18. Keramik Jepang dari abad ke 17-20. Sedangkan keramik Eropa berasal dari abad ke 19-20. Keramik lokal yang tertua berasal dari Masa Majapahit (abad ke 14) berupa alat rumah tangga (pasu, kendi, periuk), celengan, terakota pajangan, relief, serta unsur bangunan suci. Sedangkan keramik modern berasal dari Lampung, Palembang, Jawa Barat (Plered, Batujaya), Yogyakarta (Kasongan), Jawa Tengah (Klaten, Klampok, Temanggung), Jawa Timur (Dinoyo/Malang, Lamongan, Probolinggo, Tuban), Kalimantan Barat (Singkawang), Sulawesi Utara (Minahasa), Bali, Lombok (Banyu Mulek), serta dari Ambon. Selain itu juga terdapat keramik kreatif kontemporer dari seniman Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. 

Dari koleksi keramik kunanya, yang sebagian besar diperoleh dari Jakarta atau Batavia, membuktikan Batavia pada masanya menjadi kota pengguna-pendistribusi keramik kuna, baik secara nasional maupun internasional. Sementara itu, koleksi keramik modern, menunjukkan bahwa seniman kita juga berperan dan tentunya tidak kalah dengan pengrajin-pengrajin mancanegara. 

Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik yang merupakan hasil karya arsitek atau Hoofd Ingenier Jhr. W.H.F.H. Van Raders ini dibangun pada tahun 1870 . Bangunan ini mempunyai ciri arsitektur gaya Neo Klasik. Pada awalnya gedung ini digunakan sebagai Lembaga Peradilan tertinggi Belanda (Raad Van Justice Binnen Het Casteel Batavia) 21 Januari 1870, pada masa Batavia diperintah oleh Gebernur Jenderal Picter Mijer. 

Pada masa pendudukan Jepang dan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, gedung ini dijadikan sebagai asrama NMM (Nederlandsche Mission Militer) oleh tentara KNIL. Pada masa kedaulatan Republik Indonesia diserahkan kepada TNI dan dimanfaatkan sebagai gudang logistik. Selanjutnya pada tahun 1970 - 1973 digunakan sebagai kantor Walikota Jakarta Barat ..... info selanjutnya  

Jam Buka :
Selasa - Minggu: 09.00-15.00
Hari Senin dan Hari Libur Nasional tutup.

Tiket Masuk (Perda 1 / 2006)

Perorangan & Rombongan:
Dewasa Rp. 2.000,-
Pelajar / Mahasiswa Rp. 1.000,-
Anak - anak Rp. 600,-

Rombongan: (Minimal 20 orang)
Dewasa Rp. 1.500,-
Pelajar / Mahasiswa Rp. 750,-
Anak - anak Rp. 500,- 


Read more

Lukisan Cat Minyak

Lukisan cat minyak adalah proses melukis dengan pigmen yang terikat dengan media minyak pengering. Umumnya digunakan minyak pengeringan meliputi minyak biji rami, minyak Poppyseed, minyak kenari, dan minyak safflower. Minyak dapat direbus dengan resin seperti resin pinus atau kemenyan untuk membuat pernis, sering berharga bagi tubuh dan gloss. Minyak yang berbeda memberikan berbagai properti untuk cat minyak, seperti kurang menguning atau waktu pengeringan yang berbeda. Perbedaan tertentu juga terlihat di kemilau cat tergantung pada minyak. Seorang seniman mungkin menggunakan beberapa minyak yang berbeda dalam lukisan yang sama tergantung pada pigmen yang spesifik dan efek yang diinginkan. Cat sendiri juga mengembangkan konsistensi tertentu tergantung pada medium.
Meskipun cat minyak pertama kali digunakan untuk Lukisan Buddha oleh pelukis India dan Cina di Afghanistan barat kadang antara abad kelima dan kesepuluh, itu tidak mendapatkan popularitas sampai abad ke-15. Praktiknya mungkin telah bermigrasi ke barat selama Abad Pertengahan. Cat minyak akhirnya menjadi media utama yang digunakan untuk membuat karya seni sebagai keuntungan menjadi dikenal secara luas. Transisi ini dimulai dengan lukisan Netherlandish awal di Eropa Utara, dan dengan ketinggian teknik lukisan minyak Renaissance telah hampir sepenuhnya menggantikan cat tempera di sebagian besar Eropa.
Dalam beberapa tahun terakhir, air cat minyak larut telah datang ke menonjol, sampai batas tertentu mengganti penggunaan minyak tradisional. Cat air larut mengandung pengemulsi yang memungkinkan mereka untuk menipis dengan air (bukan dengan tinner), dan memungkinkan waktu pengeringan sangat cepat (1-3 hari) bila dibandingkan dengan minyak tradisional (1-3 minggu).
Teknik
Teknik lukisan minyak tradisional sering dimulai dengan artis sketsa subjek ke kanvas dengan arang atau cat menipis. Cat minyak biasanya dicampur dengan minyak biji rami, artis kelas mineral roh atau pelarut lain untuk membuat lebih tipis, lebih cepat atau lebih lambat pengeringan cat. Karena pelarut ini tipis minyak di cat, mereka juga dapat digunakan untuk membersihkan kuas cat. Aturan dasar aplikasi cat minyak 'gemuk lebih ramping'. Ini berarti bahwa setiap lapisan tambahan cat harus mengandung lebih banyak minyak dari lapisan bawah untuk memungkinkan pengeringan yang tepat. Jika setiap lapisan tambahan mengandung sedikit minyak, lukisan akhir akan retak dan mengelupas. Ada banyak media lain yang dapat digunakan dalam lukisan minyak, termasuk lilin dingin, resin, dan pernis. Ini media tambahan dapat membantu pelukis dalam menyesuaikan tembus dari cat, kemilau cat, kepadatan atau 'tubuh' cat, dan kemampuan cat untuk menahan atau menyembunyikan sapuan kuas tersebut. Variabel ini berkaitan erat dengan kemampuan ekspresif cat minyak.
Secara tradisional, cat dipindahkan ke permukaan lukisan menggunakan kuas cat, tetapi ada metode lain, termasuk menggunakan pisau palet dan kain. Cat minyak tetap basah lebih lama daripada jenis lain dari bahan seniman ', memungkinkan seniman untuk mengubah warna, tekstur atau bentuk gambar. Pada kali, pelukis bahkan mungkin menghilangkan seluruh lapisan cat dan memulai kehidupan baru. Hal ini dapat dilakukan dengan kain dan beberapa terpentin untuk waktu tertentu sementara cat basah, tapi setelah beberapa saat, lapisan mengeras harus tergores. Minyak cat mengering oleh oksidasi, bukan penguapan, dan biasanya kering untuk sentuhan dalam kurun waktu dua minggu. Hal ini umumnya cukup kering untuk dipernis dalam enam bulan sampai satu tahun. Konservator seni tidak menganggap lukisan minyak benar-benar kering sampai berusia 60 sampai 80 tahun.
Sejarah
Meskipun sejarah suhu dan media terkait di Eropa menunjukkan bahwa lukisan minyak ditemukan di sana secara mandiri, ada bukti bahwa lukisan minyak yang digunakan sebelumnya di Afghanistan. Permukaan seperti perisai - baik yang digunakan dalam turnamen dan mereka digantung sebagai dekorasi - lebih tahan lama bila dicat dalam media berbasis minyak daripada ketika dicat dengan cat tradisional suhu.
Sebagian besar sumber Renaissance, khususnya Vasari, pelukis dikreditkan utara Eropa abad ke-15, Jan van Eyck dan khususnya, dengan "penemuan" lukisan dengan media yang minyak di panel kayu. Namun, Theophilus (Roger dari Helmarshausen?) Jelas memberikan instruksi untuk lukisan minyak berbasis di risalahnya, On Berbagai Seni, ditulis dalam 1125. Pada periode ini itu mungkin digunakan untuk melukis patung, ukiran dan perabotan kayu, mungkin terutama untuk penggunaan outdoor. Lukisan Netherlandish awal abad ke-15, bagaimanapun, yang pertama untuk membuat minyak medium lukisan biasa, dan mengeksplorasi penggunaan lapisan dan glasir, diikuti oleh seluruh Eropa Utara, dan hanya kemudian Italia. Karya awal masih lukisan panel kayu, tapi sekitar akhir abad ke-15 kanvas menjadi lebih populer, seperti itu lebih murah, lebih mudah untuk transportasi, dan memungkinkan karya yang lebih besar. Venice, di mana berlayar-kanvas adalah mudah tersedia, dipimpin bergerak. Popularitas minyak menyebar melalui Italia dari Utara, mulai di Venesia pada abad ke-15. Pada tahun 1540 metode sebelumnya untuk melukis di panel, tempera, telah menjadi semua tapi punah, meskipun Italia terus menggunakan fresco untuk lukisan dinding, yang lebih sulit di iklim Utara.
Bahan
The biji rami minyak itu sendiri berasal dari biji rami, tanaman serat umum. Sangat menarik untuk dicatat bahwa linen, sebuah "dukungan" penting bagi lukisan minyak (lihat di bawah) juga berasal dari tanaman rami. Minyak safflower, atau kenari yang lebih tradisional atau minyak Poppyseed, kadang-kadang digunakan dalam merumuskan warna ringan seperti putih karena "kuning" kurang pengeringan dari minyak biji rami tidak, tetapi memiliki sedikit kelemahan pengeringan lebih lambat.
Kemajuan terbaru dalam kimia telah menghasilkan air cat minyak bercampur modern yang dapat digunakan dengan dan dibersihkan dengan air. Perubahan kecil dalam struktur molekul minyak menciptakan properti larut air.
Suatu jenis yang masih baru cat, minyak panas-set, tetap cair sampai dipanaskan sampai 265-280 ° F (130-138 ° C) selama sekitar 15 menit. Karena cat pernah mengering jika tidak, pembersihan tidak diperlukan (kecuali ketika seseorang ingin menggunakan warna yang berbeda dan kuas yang sama). Meskipun tidak secara teknis benar minyak (medium adalah tak dikenal "non-pengeringan cairan berminyak sintetis, tertanam dengan bahan pengawet sensitif panas"), lukisan menyerupai lukisan minyak dan biasanya ditampilkan sebagai lukisan minyak.
Kanvas seniman tradisional 'terbuat dari linen, tapi kain katun lebih murah telah mendapatkan popularitas. Artis pertama menyiapkan bingkai kayu yang disebut "tandu" atau "saringan". Perbedaan antara pertama dan kedua adalah bahwa tandu sedikit disesuaikan, sedangkan saringan yang kaku dan kurang takik sudut disesuaikan. Kanvas tersebut kemudian ditarik di bingkai kayu dan ditempelkan atau dijepit erat pada tepi belakang. Kemudian, artis menerapkan "ukuran" untuk mengisolasi kanvas dari kualitas asam cat. Secara tradisional, kanvas dilapisi dengan lapisan lem hewan (ukuran), (pelukis modern yang akan menggunakan lem kulit kelinci) dan prima dengan cat putih memimpin, kadang-kadang dengan menambahkan kapur. Panel disiapkan dengan gesso, campuran lem dan kapur.
Akrilik Modern "gesso" terbuat dari titanium dioksida dengan pengikat akrilik. Hal ini sering digunakan di atas kanvas, sedangkan gesso nyata tidak cocok untuk aplikasi tersebut. Artis tersebut mungkin menerapkan beberapa lapisan gesso, pengamplasan setiap mulus setelah kering. Gesso akrilik sangat sulit untuk pasir. Salah satu produsen membuat akrilik gesso sandable, tetapi dimaksudkan untuk panel saja, bukan kanvas. Hal ini dimungkinkan untuk nada gesso untuk warna tertentu, tetapi sebagian besar dibeli di toko gesso putih. Lapisan gesso akan cenderung untuk menarik cat minyak ke permukaan berpori, tergantung pada ketebalan lapisan gesso. Berlebihan atau tidak rata lapisan gesso kadang-kadang terlihat di permukaan lukisan selesai sebagai perubahan pada lapisan yang tidak dari cat.
Ukuran standar untuk lukisan minyak yang ditetapkan di Perancis pada abad ke-19. Standar yang digunakan oleh sebagian besar seniman, tidak hanya Prancis, seperti itu - dan jelas masih - didukung oleh pemasok utama bahan artis. Pemisahan utama dari ukuran 0 (toile de 0) dengan ukuran 120 (toile de 120) dibagi dalam berjalan terpisah untuk angka (gambar), lanskap (paysage) dan marinir (kelautan) yang lebih atau kurang menjaga diagonal. Jadi 0 angka sesuai tingginya dengan paysage 1 dan 2 laut.
Meskipun permukaan seperti linoleum, panel kayu, kertas, batu tulis, kayu ditekan, dan kardus telah digunakan, permukaan yang paling populer sejak abad ke-16 telah kanvas, meskipun banyak seniman menggunakan panel melalui abad ke-17 dan seterusnya. Panel lebih mahal, lebih berat, lebih sulit untuk mengangkut, dan rentan terhadap warp atau split dalam kondisi miskin. Untuk detail halus, bagaimanapun, soliditas mutlak panel kayu memberikan keuntungan.
Artis tersebut mungkin akan menggambarkan subjek mereka sebelum menerapkan pigmen ke permukaan. "Pigmen" mungkin sejumlah zat alami dengan warna, seperti belerang untuk kuning atau kobalt untuk biru. Pigmen dicampur dengan minyak, minyak biji rami biasanya tetapi minyak lain dapat digunakan juga. Berbagai minyak kering berbeda, menciptakan berbagai macam efek.

Secara tradisional, seniman dicampur cat mereka sendiri dari pigmen baku bahwa mereka sering tanah sendiri dan menengah. Hal ini membuat portabilitas sulit dan terus kegiatan lukisan yang paling terbatas ke studio. Hal ini berubah pada 1800-an, ketika cat minyak dalam tabung menjadi tersedia secara luas. Seniman bisa mencampur warna dengan cepat dan mudah, yang memungkinkan, untuk pertama kalinya, relatif nyaman plein udara (outdoor) lukisan (pendekatan umum dalam bahasa Perancis Impresionisme).
Artis yang paling sering menggunakan kuas untuk menerapkan cat. Sikat terbuat dari berbagai serat untuk menciptakan efek yang berbeda. Sebagai contoh, sikat dibuat dengan bulu babi yang dapat digunakan untuk stroke berani dan impasto tekstur. Fitch rambut dan luwak sikat rambut halus dan mulus, dan dengan demikian menjawab dengan baik untuk potret dan detail pekerjaan. Bahkan lebih mahal berwarna merah sable sikat (rambut musang). Yang terbaik kualitas kuas disebut kolinsky sable, ini serat sikat diambil dari ekor cerpelai Siberia. Rambut ini membuat titik prima, memiliki penanganan halus, dan memori yang baik (itu kembali ke titik semula ketika diangkat dari kanvas), ini dikenal sebagai seniman sikat "snap."
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak kuas sintetis telah datang di pasar. Ini adalah sangat tahan lama dan dapat cukup baik, serta biaya yang efisien. Serat Floppy tanpa snap, seperti rambut tupai, umumnya tidak digunakan oleh pelukis minyak. Ukuran sikat juga bervariasi secara luas dan digunakan untuk efek yang berbeda. Misalnya, "bulat" adalah menunjuk sikat digunakan untuk pekerjaan detail. "Datar" kuas digunakan untuk menerapkan luas petak warna. "Bright" adalah datar dengan bulu-bulu sikat lebih pendek. "Filbert" adalah datar dengan sudut bulat. "Egbert" adalah "Filbert" sangat panjang dan jarang. Artis juga mungkin menerapkan cat dengan pisau palet, yang merupakan, pisau logam datar. Sebuah pisau palet juga dapat digunakan untuk menghapus cat dari kanvas bila diperlukan. Berbagai alat konvensional, seperti kain, spons, dan kapas, dapat digunakan. Beberapa seniman bahkan cat dengan jari-jari mereka.
Kebanyakan seniman melukis di lapisan, yang hanya disebut "langsung Painting". Metode ini pertama kali disempurnakan melalui adaptasi dari teknik melukis telur tempera dan diterapkan oleh pelukis Flemish di Eropa Utara dengan pigmen tanah dalam minyak biji rami. Baru-baru ini, pendekatan ini telah disebut sebagai "Mixed Teknik" atau "Mixed Method". Lapisan pertama (juga disebut "underpainting") yang ditetapkan, sering dicat dengan telur tempera atau terpentin-menipis cat. Lapisan ini membantu untuk "nada" kanvas dan untuk menutupi putih gesso tersebut. Banyak seniman menggunakan lapisan ini untuk membuat sketsa komposisi. Ini lapisan pertama dapat disesuaikan sebelum bergerak maju, keuntungan atas metode 'kartun' yang digunakan dalam teknik Fresco. Setelah lapisan ini mengering, artis tersebut mungkin kemudian dilanjutkan dengan mengecat "mosaik" dari kotak warna, bekerja dari gelap ke paling ringan. Perbatasan warna dicampur bersama-sama ketika "mosaik" selesai. Mosaik lapisan ini kemudian dibiarkan kering sebelum menerapkan detail.
Seniman pada masa berikutnya, seperti era impresionis, sering digunakan metode basah-on-basah lebih luas, pencampuran cat basah di kanvas tanpa mengikuti pendekatan era Renaissance-layering dan kaca. Metode ini juga disebut "alla prima". Metode ini diciptakan karena munculnya seni lukis di luar, bukan di dalam studio. Sementara di luar, seorang seniman tidak punya waktu untuk membiarkan setiap lapisan cat kering sebelum menambahkan lapisan baru. Beberapa seniman kontemporer menggunakan campuran dari kedua teknik, yang dapat menambah warna berani (basah-on-basah) serta kedalaman lapisan melalui kaca.
Ketika gambar selesai dan telah mengering hingga satu tahun, seorang seniman seringkali segel bekerja dengan lapisan pernis yang biasanya terbuat dari damar permen kristal dilarutkan dalam terpentin. Pernis tersebut dapat dihapus tanpa mengganggu lukisan cat minyak itu sendiri, untuk memungkinkan pembersihan dan konservasi. Beberapa seniman kontemporer memutuskan untuk tidak pernis pekerjaan mereka, lebih memilih bahwa permukaan tetap pernis bebas.


Read more